Tampilkan postingan dengan label Jangan Menghina Orang Beriman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jangan Menghina Orang Beriman. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Juli 2010

Jangan Pernah Menghina Orang Sholeh, Orang Beriman dan atau Wali Allah ( Bag 4 )

Rasulullah saw. bersabda, "Apabila Allah ingin membinasakan seseorang atau suatu kaum, maka pertama kali, Allah akan melenyapkan rasa malu dari dirinya. Dan jika rasa malu itu tidak ada lagi, maka manusia akan memandangnya dengan rasa benci dan tidak disukai. Apabila terjadi demikian, maka hilanglah amanat pada dirinya ( tidak jujur lagi ), dan akan berkhianat secara terang-terangan. Apabila sampai ke tahap ini, maka rahmat akan terkeluar dari hatinya dan ia tidak memiliki rasa belas kasih terhadap makhluk. Apabila sampai ke derajat ini, maka manusia akan menolak dan mengutuknya. Dan apabila sampai pada peringkat ini, maka engkau akan melihat tali Islam akan terputus dari lehernya." ( Sumber: Kitab Jami'ush Shaghir ).

Rasulullah saw. juga bersabda, "Siapa yang menyakiti hati seorang muslim, berarti ia telah menyakitiku. Dan siapa yang menyakitiku, berarti ia menyakiti Allah." ( Jami'ush Shaghir ).
Betapa berat masalah ini! Jika menyakiti seorang muslim yang awam saja berarti menyakiti Allah, lalu bagaimana dengan menyakiti seorang kekasih Allah?

Allamah Sya'rani rah.a. menulis dalam kitab 'Tabaqatul Kubra' bahwa Imam Abu Turab rah.a. --seorang ahli sufi- berkata, "Jika hati seseorang berpaling dari Allah, maka ia akan mendapatkan seorang kawan yang biasa mencela dan menghina waliyullah ( kekasih Allah )."
Sebuah syair Parsi berbunyi,
"Apabila Allah ingin menghina dan memperlihatkan orang yang buruk pemikirannya, maka akan Ia masukkan dalam hati orang tersebut pikiran jahat terhadap para waliyullah."

Syekh Abu Hasan Syahzali rah.a. -seorang ahli sufi yang masyhur-berkata, "Para waliyullah selalu terdepan dalam menghadapi penderitaan berupa hinaan dan ancaman. Sebagian celaan ini berasal dari mereka yang pada zhahirnya mencintai dan mengabdi kepada waliyullah tersebut, tetapi terhadap waliyullah yang lain mereka mengingkarinya dengan berkata, "Bagaimana mungkin orang ini dianggap wali?" Padahal ia sendiri tidak mengetahui tanda dan ciri kewalian itu."

Saya ( Maulana Zakariyya rah.a. ) bertanya kepada Anda, "Dapatkah orang tersebut, yang tidak memahami dengan benar tanda kewalian, lalu ia menyangkal kewalian seseorang?"

Selanjutnya Syekh Abul Hasan rah.a. berkata, bahwa sebagian waliyullah tersembunyi dari pandangan masyarakat, sehingga mereka dapat bergaul bebas di kalangan umara ( pejabat )  dan aghnia ( orang-orang kaya ). Dengan demikian, para pencela berpeluang untuk mencela mereka dengan berkata, "Jika ia benar-benar kekasih Allah, ia sepatutnya uzlah dan sibuk mencari ilmu dan beribadah saja." Sebenarnya, jika si pencela itu memiliki kepedulian terhadap agama, sepatutnya ia berpikir dahulu pada dirinya, "Adakah orang ini bergaul dengan para birokrat atau orang-orang kaya untuk kepentingan dirinya atau untuk maksud dan manfaat agama serta kebajikan umat Islam? Mungkin dengan pergaulan-nya itu ia bermaksud meluruskan kesalahan mereka? Kadangkala wajib bagi ulama bergaul dengan para pejabat dan orang-orang kaya untuk memperbaiki mereka, dan ada masanya ia mesti menjauhi mereka." ( Thabaqatul Kubra ).

Pada saat ini, sepatutnya kita memahami bahwa ketika seorang waliyullah membalas atau menyerang balik pencela tersebut, maka biasanya para pencela itu akan semakin kritis, sehingga banyak orang menyangka waliyullah tersebut adalah orang awam biasa yang terpancing emosinya. Sebenarnya, kecaman dan kritikan kekasih Allah itu adalah demi maslahat yang besar bagi para pengkritik tersebut.

Mirza Mazhar Janee Janaan rah.a., menulis dalam 'Makatib'-nya bahwa suatu ketika, ayah Syekh Mujaddid Ahmad Sirhindi rah.a., yaitu Syekh Abu Ahmad As-Sirhindi rah.a. telah dihina oleh seorang wanita dengan berusaha menjatuhkan martabatnya. Namun Syekh Abu Ahmad rah.a. tetap bersabar dan diam. Kemudian melalui pandangan mata batinnya, Syekh tersebut melihat murka Allah hampir turun ke atas wanita tersebut, maka segera Syekh menyuruh seseorang menampar wanita itu, tetapi orang yang disuruh itu kaget dan bingung, sehingga wanita tadi terjatuh dan mati.
Masih banyak lagi peristiwa seperti ini dalam kehidupan para waliyullah. Dalam tulisan saya ( Maulana Zakariyya ) sebelum ini, saya berpendapat bahwa siksa seperti di atas ( karena menyakiti para waliyullah )  adalah ringan jika dibandingkan dengan musibah yang dapat terjadi terhadap agamanya.

Syekh Ali Khawas rah.a. --seorang waliyullah yang masyhur-menulis, 'Peliharalah dirimu, walaupun dari mendengar seseorang yang kerjanya mengkritik dan membantah alim ulama dan para ahli sufi tanpa suatu alasan syariat. Jauhkan dirimu darinya, sehingga engkau tidak seperti dirinya. Jangan sampai engkau menjadi hina dalam pandangan Allah, agar engkau terpelihara di sisi Allah, yang jika Dia tidak ridha atau murka pasti engkau tidak dapat lepas dari siksa-Nya." ( Sumber: Kitab Thabaqatul Kubra ).




Read More or Baca Lebih Lengkap ..

Jangan Pernah Menghina Orang Sholeh, Orang Beriman dan atau Wali Allah ( Bag 3 )


Syekh Abdul Aziz Dehlawi rah.a. -putra Syekh Walilullah Dehlawi ( Baqiatus Salaf  Hujjatul Khalaf)-- di dalam tafsirnya menulis mengenai ayat,

"Demikian itu ( terjadi ) karena mereka selalu (terus menerus) berbuat durhaka dan melampaui batas." ( Al-Baqarah : 61 ).
Ia berkata, "Orang-orang Yahudi menjadi kafir, bahkan berani membunuh Nabi-nabi mereka, karena selalu berketerusan dalam perbuatan maksiat. Setelah melakukan kemaksiatan terus menerus kepada para Nabi, orang-orang Yahudi itu menjadi berani menantang Nabi-nabi. Perbuatan maksiat ini tumbuh sedikit demi sedikit, sehingga lambat laun kebiasaan tersebut semakin melampaui batas. Akhirnya, mereka memandang perbuatan dosa ini sebagai perbuatan baik. Apabila sampai ke tahap ini, maka orang-orang yang ingin berdakwah mencegah mereka dianggap sebagai musuh. Ketika Anbiya as. terus-menerus menyeru mereka agar meninggalkan kejahatan tersebut dan merubah cara hidup yang seperti itu, maka mereka menganggap para Nabi itu adalah musuh bebuyutan, sehingga mereka membunuh para Nabi itu. Demikianlah akibat perbuatan dosa, sehingga dapat mengubah pandangan, sifat dan keyakinan seseorang. Bahkan ayat-ayat Al Quran yang telah nyata kebenarannya pun diingkari oleh mereka. Akibat dari dosa ini, akhirnya pandangan mereka terus mengalami perubahan negatif.

Oleh sebab inilah para ulama Rabbani sangat menekankan agar menjauhi dosa, sebab jika dosa itu dilakukan terus menerus, akan menjadi parah secara bertahap, sehingga orang yang selalu berbuat dosa akan menganggap perbuatannya itu terpuji, nikmat dan menyenangkan. Demikian parah, sehingga siapapun yang berusaha menghentikan perbuatanya itu akan dihina, dicaci dan dibenci. Bahkan pada suatu saat nanti, ia akan sampai pada batas-batas kekufuran.

Dengan alasan inilah terdapat suatu untaian kata-kata hikmah dari para ahli sufi,

"Barangsiapa menyepelekan adab ( dalam syariat ), maka sebagai adzabnya ia akan terhalang dari hidayah mengamalkan sunnah. Dan barangsiapa menyepelekan sunnah, maka ia akan terhalang dari hidayah mengamalkan fardhu. Dan barangsiapa menyepelekan fardhu, maka ia akan terhalang dari ma'rifatullah ( mengenal Allah )."

Adalah suatu masalah yang sangat berbahaya jika menganggap adab-adab dalam syariat itu hina dan sepele, bahkan menyia-nyiakannya akan lebih berbahaya. Barangsiapa meninggalkan adab, maka akan membuatnya terhalang dari mendapat kebahagiaan. Oleh sebab itu, sikap hormat dan memuliakan para ulama kekasih Allah adalah suatu adab yang sangat penting dalam Islam. Apabila adab-adab dihinakan dan disepelekan, sehingga berakibat penghinaan terhadap hal-hal yang fardhu, malah bisa menyampaikan Anda ke tahap kufur. Anda dapat bayangkan, betapa bahaya perbuatan tersebut.

Banyak orang yang menganggap sepele adab-adab dan perbuatan dosa. Mereka tidak memahami bahwa setiap bagian dalam agama itu saling berhubungan dan saling menunjang di antara satu dengan yang lainnya. Setiap bagian menguatkan bagian yang lainnya. Oleh sebab itu, Rasulullah saw. bersabda, "Apabila suatu kaum mengamalkan suatu perbuatan bid'ah, maka Allah akan mengangkat satu sunnah di antara mereka yang tidak akan dikembalikan lagi kepada mereka hingga hari Kiamat."( Sumber: Kitab Misykat ).




Read More or Baca Lebih Lengkap ..

Jangan Pernah Menghina Orang Sholeh, Orang Beriman dan atau Wali Allah ( Bag 2 )

Suatu ketika, Umar ra. masuk ke Masjid Nabawi, lalu terlihat olehnya Mu'adz bin Jabal ra. sedang duduk di dekat kubur Rasulullah saw. sambil menangis terisak-isak. Umar ra. berkata, "Wahai Mu'adz, mengapa engkau menangis?" Dijawab, "Sesungguhnya suatu ketika, aku mendengar penghuni kubur ini bersabda, yang menyebabkan saya menangis ( karena takut terjadi sesuatu menimpanya ). Aku mendengar beliau bersabda,

"Beramal walaupun dengan sedikit riya, adalah syirik. Dan barangsiapa memusuhi wali-Ku, termasuk berperang menentang-Ku." ( Sumber: Kitab Mustadrak Hakim ).

Sebuah hadits lain menyatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, Jibril as. memberitahu bahwa Allah berfirman, "Barangsiapa menghina siapapun dari wali-Ku, berarti ia siap berperang menentang-Ku. Aku sangat murka terhadap kecaman mereka, sehingga dengan pembelaan mereka sekali pun, Aku laksana seekor singa yang garang." (Durrul Mantsur).
Betapa bahaya menyerang dan mengecam para waliyullah. Adakah perlindungan yang terbaik bagi mereka yang berperang melawan Allah? Jika balasan di dunia ini hanya dengan kehilangan tangan atau kaki, atau kehilangan mata atau telinga, itu tidaklah seberapa. Karena bagi orang yang sedang berperang hal itu ringan. Itu hanya kerugian duniawi, dan masih ada harapan untuk bertaubat dan meminta ampun. Tetapi jika dari perbuatan kita itu ( semoga dijauhkan Allah ) menyebabkan kerugian dan kehilangan iman serta agama, maka adakah yang dapat kita perbuat lagi?

Alim ulama berkata, dari seluruh dosa yang dilakukan oleh seseorang, tidak ada yang menyamai pernyataan memerangi Allah. Selain dosa mengutuk dan menghina para waliyullah dan memakan riba, kedua perbuatan dosa ini menyebabkan Allah mengumumkan perang terhadapnya. Ini menunjukkan betapa berat dan serius kedua dosa tersebut. Dikhawatirkan, orang-orang yang berbuat dosa ini akan mengalami su'ul khatimah ( akhir hidup yang buruk ) yang terkeluar dari iman. ( Sumber: Kitab Mirqatul Mafatih, Syarah Misykatul Masaabih).

Pengarang Mazhahir Haq menulis bahwa pernyataan perang dari Allah terhadap seseorang menandakan bahwa orang itu sedang menuju akhir hidup yang buruk. Bagi seorang muslim, jika akhir hidupnya berada dalam kebaikan ( khusnul khatimah ), merupakan suatu nikmat kemuliaan yang sangat dinanti dan disenangi oleh setiap orang. Oleh sebab itu, pikirkan dan renungkanlah bahaya yang akan dihadapi jika hidup ini berakhir dalam keburukan.

Di dalam kitabnya, Jami'ul Usul, Syekh Ahmad rah.a. menulis bahwa perbuatan menghina dan melontarkan kata-kata yang meremehkan wali Allah yang berpegang kepada sunnah dan memberantas bid'ah terutama alim ulama yang berilmu Islam dan bermanfaat dan senantiasa menegakkan amal shaleh dan pembawa ilmu Ilahi, sesungguhnya merupakan dosa besar dan berbahaya, yang dapat menjerumuskan pelakunya ke dalam kerugian yang besar. Dalam masalah ini telah diberikan peringatan yang sangat keras. Karena hal ini adalah perbuatan yang sangat berbahaya, dan merupakan pertanda bahwa hati orang itu telah berpaling dari Allah dan di dalam hatinya terdapat penyakit. Orang seperti demikian sangat dikhawatirkan akan mendapatkan Su'ul Khatimah.'

Setelah menulis demikian, Syekh Ahmad rah.a. telah membuat suatu pembahasan yang panjang lebar mengenai perbuatan-perbuatan dosa terhadap waliyullah. Namun kami tidak memiliki kesempatan yang cukup untuk mengutip seluruh pembahasan tersebut di sini. Dalam segala hal, saya ( Maulana Zakariyya ) mengingatkan kepada siapa saja, hendaknya jangan ada sedikit pun di dalam hati rasa benci dan rasa ingin menyakiti para kekasih Allah.





Read More or Baca Lebih Lengkap ..

What Does This Blog Talk? Blog ini Bicara Tentang...

Lorem Ipsum

  © Blogger templates Romantico by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP