Tampilkan postingan dengan label Tentang Khilafiah atau Perbedaan Pendapat.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang Khilafiah atau Perbedaan Pendapat.. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Juli 2010

Mencintai Para Waliyullah ( Bag 1 )

Syekh Abdul Fawaris Shah bin Suja' Karmani rah.a. berkata, "Tidak ada ibadah yang lebih utama daripada mencintai para waliyullah, karena mencintai mereka ialah tanda cinta Allah terhadapmu." ( Sumber: Kitab Nahzatul Basatin ).
Oleh sebab itu, secara khusus saya ( Maulana Zakariyya ) nasehatkan agar senantiasa mencintai para waliyullah dengan tulus, dan saya berharap agar nasehat ini diterima dengan penuh keikhlasan.
"Wahai teman,
Para pemuda yang shaleh, dengarlah nasehat saya;
Memikirkan dan merenungi kata-kata alim ulama shaleh adalah lebih berharga daripada kehidupanmu."

Terdapat berbagai riwayat hadits yang menyatakan, bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Seseorang itu akan dibangkitkan ( pada hari Kiamat ) bersama orang yang mereka cintai dan sayangi." Seorang sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, bagaimana jika seseorang mencintai jamaah, tetapi ia tidak dapat menyamai amalan mereka dan tidak sempat menemui mereka?" Jawab Rasulullah saw., "Ia akan dianggap bersama dengan siapa yang dicintainya."

Dalam sebuah hadits lain, seorang sahabat lainnya bertanya kepada Rasulullah saw., "Ya Rasulullah, kapankah hari Kiamat terjadi?" Rasulullah saw. bertanya, "Apakah yang telah kamu siapkan untuk kedatangannya, sehingga menjadi penantian dan kerinduanmu?" Dia menjawab, "Ya Rasululah, aku tidak mempersiapkannya kecuali aku mencintai Allah dan Rasul-Nya." Jawab beliau, "Kamu akan bersama-sama orang-orang yang kamu cintai." Anas ra. berkata, "Ketika hadits ini telah didengar oleh para sahabat, mereka sangat bergembira dan senang, seolah-olah tiada sesuatu yang lain yang dapat menggembirakan mereka." ( Sumber: Kitab Misykat ).

Pada dasarnya, para sahabat telah tenggelam dalam kecintaan terhadap Rasulullah saw.. Kegembiraan para sahabat tersebut adalah suatu ungkapan kebahagiaan. Kisah-kisah ringkas mengenai kecintaan para sahabat, terdapat dalam kitab 'Hikayatus Sahabat', karya Maulana Zakariyya tah.a.. Kiranya hal itu dapat meyakinkan kita, betapa cintanya para sahabat terhadap Rasulullah saw. karena agama.

Di dalam sebuah hadits dinyatakan bahwa, "Penting bagi seseorang untuk melihat kapasitas kepahaman dan keadaan agama seseorang, sebelum ia menjadikannya sebagai temannya." ( Misykat ).

Demikian banyak hadits yang menyebutkan kepentingan mencintai para waliyullah dan berhubungan baik dengan mereka, serta menjauhi orang-orang yang tidak beragama. Menyuburkan kasih sayang dan cinta kepada para waliyullah adalah sesuatu yang sangat berharga dan bermanfaat di dunia dan akhirat.

Syair Parsi:
Semaikan pengabdianmu terhadap para waliyullah.
Bersahabatlah dengan mereka dan janganlah takut.
Apa yang harus ditakutkan, sedangkan dia bersama-sama Nuh as. di dalam
bahteranya.
Dalam mencintai para waliyullah, Janganlah banyak mengeluh,
Jauhilah sedapat mungkin dari orang-orang yang lemah agamanya.

Rasulullah saw. bersabda, "Perumpamaan duduk bersama sahabat yang shaleh dan baik adalah seperti duduk dengan pedagang minyak kasturi. Walaupun kita tidak mendapat kasturi tersebut, namun baunya akan terhirup juga. Dan perumpamaan pergaulan kita dengan orang yang buruk adalah seperti orang yang berada di dekat api. Setidaknya percikannya dapat mengenai pakaian atau badan. Jika tidak terkena percikannya, setidaknya asap atau baunya akan mengenai kita." ( Bukhari, Muslim ).

Lukman Hakim pernah menasehati anaknya, "Wahai anakku, duduklah di kalangan orang-orang shaleh, sehingga kamu akan mendapatkan rahmat-Nya. Janganlah pergi ke majelis maksiat, karena jika kemurkaan dan bencana turun ke atas mereka, kamu pun akan menerimanya." ( Durrul Mantsur: V ).

Oleh sebab itu, hindari atau kurangilah bergaul dengan orang-orang yang jahat, orang-orang yang selalu meremehkan bahkan menertawakan agama, sebaliknya bergaullah dengan para kekasih Allah yang duduknya kita dengan mereka akan mendapat pemahaman dan faedah yang besar. Pergaulan itulah yang menjadi sebab kemajuan rohani. Walau bagaimanapun, dalam segala hal hendaknya kita ingat; sebagaimana kita perlu membuat batas antara orang yang jujur dan yang dusta, maka berhati-hatilah dari orang yang menyamar sebagai waliyullah.

Sebuah syair Parsi berbunyi,
Banyak syetan yang muncul menyerupai Adam as.,
maka berhati-hatilah agar tidak menyerahkan dirimu kepada setiap orang
Andaikan terjebak, sehingga menganggap suatu kesalahan dan kejahatan itu baik, maka itu adalah suatu kecacatan dan kerusakan.
Berhati-hatilah dalam menentukan waliyullah pembimbing kita. Keaslian dan kepalsuannya terletak dalam bagaimana ia mengajarkan dan mengamalkan syariat agama. Apabila aqidahnya ( tauhidnya ) lurus, bebas dari syirik dan bid'ah, menjaga shalat, zakat dan puasanya, juga hukum-hukum syariat yang lainnya, maka ia dapat dianggap sebagai orang yang berada di jalan yang lurus. Namun jika amal perbuatannya bertentangan dengan kaidah-kaidah syariat, maka ia tidak dapat dikatakan sebagai seorang wali. Rasulullah saw. bersabda, "Tiada seorang pun yang menjadi mukmin sejati, sehingga hawa nafsunya disandarkan mengikuti agama yang kubawa." ( Misykat ).

Rasulullah saw. bersabda, "Sahabat terbaik adalah, orang yang jika kita melihat wajahnya, maka akan teringat Allah. Jika kita mendengar ucapannya, maka akan bertambah ilmu kita. Jika melihat amal perbuatannya, maka akan meningkatkan cinta kita terhadap akhirat." ( Jami'ush Shaghir ).

Dengan demikian, mahabbah ( kasih sayang ) dan ta'aluk ( kepatuhan )  itu sangat penting. Dan sebelum kita menetapkan diri sebagai murid seseorang, kita perlu melihat keadaan agamanya dan kepatuhannya terhadap syariat. Jangan sampai kita menjadi murid atau mematuhi seseorang yang belum diketahui apakah ia mematuhi syariat atau tidak. Walaupun demikian, tidak patut bagi kita mengadili atau menghukumi seseorang semata-mata berdasarkan apa yang kita dengar.

Anas ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. menasehati, "Wahai anakku, jika kamu mampu tidak menyebarkan rasa permusuhan di dalam hatimu terhadap seseorang, maka lakukanlah. Itulah sunnahku. Barangsiapa memilih sunnahku, berarti ia mencintaiku. Dan barangsiapa mencintaiku, akan menjadi temanku di surga." ( Misykat ).



Read More or Baca Lebih Lengkap ..

Jangan Pernah Menghina Orang Sholeh, Orang Beriman dan atau Wali Allah ( Bag 4 )

Rasulullah saw. bersabda, "Apabila Allah ingin membinasakan seseorang atau suatu kaum, maka pertama kali, Allah akan melenyapkan rasa malu dari dirinya. Dan jika rasa malu itu tidak ada lagi, maka manusia akan memandangnya dengan rasa benci dan tidak disukai. Apabila terjadi demikian, maka hilanglah amanat pada dirinya ( tidak jujur lagi ), dan akan berkhianat secara terang-terangan. Apabila sampai ke tahap ini, maka rahmat akan terkeluar dari hatinya dan ia tidak memiliki rasa belas kasih terhadap makhluk. Apabila sampai ke derajat ini, maka manusia akan menolak dan mengutuknya. Dan apabila sampai pada peringkat ini, maka engkau akan melihat tali Islam akan terputus dari lehernya." ( Sumber: Kitab Jami'ush Shaghir ).

Rasulullah saw. juga bersabda, "Siapa yang menyakiti hati seorang muslim, berarti ia telah menyakitiku. Dan siapa yang menyakitiku, berarti ia menyakiti Allah." ( Jami'ush Shaghir ).
Betapa berat masalah ini! Jika menyakiti seorang muslim yang awam saja berarti menyakiti Allah, lalu bagaimana dengan menyakiti seorang kekasih Allah?

Allamah Sya'rani rah.a. menulis dalam kitab 'Tabaqatul Kubra' bahwa Imam Abu Turab rah.a. --seorang ahli sufi- berkata, "Jika hati seseorang berpaling dari Allah, maka ia akan mendapatkan seorang kawan yang biasa mencela dan menghina waliyullah ( kekasih Allah )."
Sebuah syair Parsi berbunyi,
"Apabila Allah ingin menghina dan memperlihatkan orang yang buruk pemikirannya, maka akan Ia masukkan dalam hati orang tersebut pikiran jahat terhadap para waliyullah."

Syekh Abu Hasan Syahzali rah.a. -seorang ahli sufi yang masyhur-berkata, "Para waliyullah selalu terdepan dalam menghadapi penderitaan berupa hinaan dan ancaman. Sebagian celaan ini berasal dari mereka yang pada zhahirnya mencintai dan mengabdi kepada waliyullah tersebut, tetapi terhadap waliyullah yang lain mereka mengingkarinya dengan berkata, "Bagaimana mungkin orang ini dianggap wali?" Padahal ia sendiri tidak mengetahui tanda dan ciri kewalian itu."

Saya ( Maulana Zakariyya rah.a. ) bertanya kepada Anda, "Dapatkah orang tersebut, yang tidak memahami dengan benar tanda kewalian, lalu ia menyangkal kewalian seseorang?"

Selanjutnya Syekh Abul Hasan rah.a. berkata, bahwa sebagian waliyullah tersembunyi dari pandangan masyarakat, sehingga mereka dapat bergaul bebas di kalangan umara ( pejabat )  dan aghnia ( orang-orang kaya ). Dengan demikian, para pencela berpeluang untuk mencela mereka dengan berkata, "Jika ia benar-benar kekasih Allah, ia sepatutnya uzlah dan sibuk mencari ilmu dan beribadah saja." Sebenarnya, jika si pencela itu memiliki kepedulian terhadap agama, sepatutnya ia berpikir dahulu pada dirinya, "Adakah orang ini bergaul dengan para birokrat atau orang-orang kaya untuk kepentingan dirinya atau untuk maksud dan manfaat agama serta kebajikan umat Islam? Mungkin dengan pergaulan-nya itu ia bermaksud meluruskan kesalahan mereka? Kadangkala wajib bagi ulama bergaul dengan para pejabat dan orang-orang kaya untuk memperbaiki mereka, dan ada masanya ia mesti menjauhi mereka." ( Thabaqatul Kubra ).

Pada saat ini, sepatutnya kita memahami bahwa ketika seorang waliyullah membalas atau menyerang balik pencela tersebut, maka biasanya para pencela itu akan semakin kritis, sehingga banyak orang menyangka waliyullah tersebut adalah orang awam biasa yang terpancing emosinya. Sebenarnya, kecaman dan kritikan kekasih Allah itu adalah demi maslahat yang besar bagi para pengkritik tersebut.

Mirza Mazhar Janee Janaan rah.a., menulis dalam 'Makatib'-nya bahwa suatu ketika, ayah Syekh Mujaddid Ahmad Sirhindi rah.a., yaitu Syekh Abu Ahmad As-Sirhindi rah.a. telah dihina oleh seorang wanita dengan berusaha menjatuhkan martabatnya. Namun Syekh Abu Ahmad rah.a. tetap bersabar dan diam. Kemudian melalui pandangan mata batinnya, Syekh tersebut melihat murka Allah hampir turun ke atas wanita tersebut, maka segera Syekh menyuruh seseorang menampar wanita itu, tetapi orang yang disuruh itu kaget dan bingung, sehingga wanita tadi terjatuh dan mati.
Masih banyak lagi peristiwa seperti ini dalam kehidupan para waliyullah. Dalam tulisan saya ( Maulana Zakariyya ) sebelum ini, saya berpendapat bahwa siksa seperti di atas ( karena menyakiti para waliyullah )  adalah ringan jika dibandingkan dengan musibah yang dapat terjadi terhadap agamanya.

Syekh Ali Khawas rah.a. --seorang waliyullah yang masyhur-menulis, 'Peliharalah dirimu, walaupun dari mendengar seseorang yang kerjanya mengkritik dan membantah alim ulama dan para ahli sufi tanpa suatu alasan syariat. Jauhkan dirimu darinya, sehingga engkau tidak seperti dirinya. Jangan sampai engkau menjadi hina dalam pandangan Allah, agar engkau terpelihara di sisi Allah, yang jika Dia tidak ridha atau murka pasti engkau tidak dapat lepas dari siksa-Nya." ( Sumber: Kitab Thabaqatul Kubra ).




Read More or Baca Lebih Lengkap ..

Jangan Pernah Menghina Orang Sholeh, Orang Beriman dan atau Wali Allah ( Bag 3 )


Syekh Abdul Aziz Dehlawi rah.a. -putra Syekh Walilullah Dehlawi ( Baqiatus Salaf  Hujjatul Khalaf)-- di dalam tafsirnya menulis mengenai ayat,

"Demikian itu ( terjadi ) karena mereka selalu (terus menerus) berbuat durhaka dan melampaui batas." ( Al-Baqarah : 61 ).
Ia berkata, "Orang-orang Yahudi menjadi kafir, bahkan berani membunuh Nabi-nabi mereka, karena selalu berketerusan dalam perbuatan maksiat. Setelah melakukan kemaksiatan terus menerus kepada para Nabi, orang-orang Yahudi itu menjadi berani menantang Nabi-nabi. Perbuatan maksiat ini tumbuh sedikit demi sedikit, sehingga lambat laun kebiasaan tersebut semakin melampaui batas. Akhirnya, mereka memandang perbuatan dosa ini sebagai perbuatan baik. Apabila sampai ke tahap ini, maka orang-orang yang ingin berdakwah mencegah mereka dianggap sebagai musuh. Ketika Anbiya as. terus-menerus menyeru mereka agar meninggalkan kejahatan tersebut dan merubah cara hidup yang seperti itu, maka mereka menganggap para Nabi itu adalah musuh bebuyutan, sehingga mereka membunuh para Nabi itu. Demikianlah akibat perbuatan dosa, sehingga dapat mengubah pandangan, sifat dan keyakinan seseorang. Bahkan ayat-ayat Al Quran yang telah nyata kebenarannya pun diingkari oleh mereka. Akibat dari dosa ini, akhirnya pandangan mereka terus mengalami perubahan negatif.

Oleh sebab inilah para ulama Rabbani sangat menekankan agar menjauhi dosa, sebab jika dosa itu dilakukan terus menerus, akan menjadi parah secara bertahap, sehingga orang yang selalu berbuat dosa akan menganggap perbuatannya itu terpuji, nikmat dan menyenangkan. Demikian parah, sehingga siapapun yang berusaha menghentikan perbuatanya itu akan dihina, dicaci dan dibenci. Bahkan pada suatu saat nanti, ia akan sampai pada batas-batas kekufuran.

Dengan alasan inilah terdapat suatu untaian kata-kata hikmah dari para ahli sufi,

"Barangsiapa menyepelekan adab ( dalam syariat ), maka sebagai adzabnya ia akan terhalang dari hidayah mengamalkan sunnah. Dan barangsiapa menyepelekan sunnah, maka ia akan terhalang dari hidayah mengamalkan fardhu. Dan barangsiapa menyepelekan fardhu, maka ia akan terhalang dari ma'rifatullah ( mengenal Allah )."

Adalah suatu masalah yang sangat berbahaya jika menganggap adab-adab dalam syariat itu hina dan sepele, bahkan menyia-nyiakannya akan lebih berbahaya. Barangsiapa meninggalkan adab, maka akan membuatnya terhalang dari mendapat kebahagiaan. Oleh sebab itu, sikap hormat dan memuliakan para ulama kekasih Allah adalah suatu adab yang sangat penting dalam Islam. Apabila adab-adab dihinakan dan disepelekan, sehingga berakibat penghinaan terhadap hal-hal yang fardhu, malah bisa menyampaikan Anda ke tahap kufur. Anda dapat bayangkan, betapa bahaya perbuatan tersebut.

Banyak orang yang menganggap sepele adab-adab dan perbuatan dosa. Mereka tidak memahami bahwa setiap bagian dalam agama itu saling berhubungan dan saling menunjang di antara satu dengan yang lainnya. Setiap bagian menguatkan bagian yang lainnya. Oleh sebab itu, Rasulullah saw. bersabda, "Apabila suatu kaum mengamalkan suatu perbuatan bid'ah, maka Allah akan mengangkat satu sunnah di antara mereka yang tidak akan dikembalikan lagi kepada mereka hingga hari Kiamat."( Sumber: Kitab Misykat ).




Read More or Baca Lebih Lengkap ..

Jangan Pernah Menghina Orang Sholeh, Orang Beriman dan atau Wali Allah ( Bag 2 )

Suatu ketika, Umar ra. masuk ke Masjid Nabawi, lalu terlihat olehnya Mu'adz bin Jabal ra. sedang duduk di dekat kubur Rasulullah saw. sambil menangis terisak-isak. Umar ra. berkata, "Wahai Mu'adz, mengapa engkau menangis?" Dijawab, "Sesungguhnya suatu ketika, aku mendengar penghuni kubur ini bersabda, yang menyebabkan saya menangis ( karena takut terjadi sesuatu menimpanya ). Aku mendengar beliau bersabda,

"Beramal walaupun dengan sedikit riya, adalah syirik. Dan barangsiapa memusuhi wali-Ku, termasuk berperang menentang-Ku." ( Sumber: Kitab Mustadrak Hakim ).

Sebuah hadits lain menyatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, Jibril as. memberitahu bahwa Allah berfirman, "Barangsiapa menghina siapapun dari wali-Ku, berarti ia siap berperang menentang-Ku. Aku sangat murka terhadap kecaman mereka, sehingga dengan pembelaan mereka sekali pun, Aku laksana seekor singa yang garang." (Durrul Mantsur).
Betapa bahaya menyerang dan mengecam para waliyullah. Adakah perlindungan yang terbaik bagi mereka yang berperang melawan Allah? Jika balasan di dunia ini hanya dengan kehilangan tangan atau kaki, atau kehilangan mata atau telinga, itu tidaklah seberapa. Karena bagi orang yang sedang berperang hal itu ringan. Itu hanya kerugian duniawi, dan masih ada harapan untuk bertaubat dan meminta ampun. Tetapi jika dari perbuatan kita itu ( semoga dijauhkan Allah ) menyebabkan kerugian dan kehilangan iman serta agama, maka adakah yang dapat kita perbuat lagi?

Alim ulama berkata, dari seluruh dosa yang dilakukan oleh seseorang, tidak ada yang menyamai pernyataan memerangi Allah. Selain dosa mengutuk dan menghina para waliyullah dan memakan riba, kedua perbuatan dosa ini menyebabkan Allah mengumumkan perang terhadapnya. Ini menunjukkan betapa berat dan serius kedua dosa tersebut. Dikhawatirkan, orang-orang yang berbuat dosa ini akan mengalami su'ul khatimah ( akhir hidup yang buruk ) yang terkeluar dari iman. ( Sumber: Kitab Mirqatul Mafatih, Syarah Misykatul Masaabih).

Pengarang Mazhahir Haq menulis bahwa pernyataan perang dari Allah terhadap seseorang menandakan bahwa orang itu sedang menuju akhir hidup yang buruk. Bagi seorang muslim, jika akhir hidupnya berada dalam kebaikan ( khusnul khatimah ), merupakan suatu nikmat kemuliaan yang sangat dinanti dan disenangi oleh setiap orang. Oleh sebab itu, pikirkan dan renungkanlah bahaya yang akan dihadapi jika hidup ini berakhir dalam keburukan.

Di dalam kitabnya, Jami'ul Usul, Syekh Ahmad rah.a. menulis bahwa perbuatan menghina dan melontarkan kata-kata yang meremehkan wali Allah yang berpegang kepada sunnah dan memberantas bid'ah terutama alim ulama yang berilmu Islam dan bermanfaat dan senantiasa menegakkan amal shaleh dan pembawa ilmu Ilahi, sesungguhnya merupakan dosa besar dan berbahaya, yang dapat menjerumuskan pelakunya ke dalam kerugian yang besar. Dalam masalah ini telah diberikan peringatan yang sangat keras. Karena hal ini adalah perbuatan yang sangat berbahaya, dan merupakan pertanda bahwa hati orang itu telah berpaling dari Allah dan di dalam hatinya terdapat penyakit. Orang seperti demikian sangat dikhawatirkan akan mendapatkan Su'ul Khatimah.'

Setelah menulis demikian, Syekh Ahmad rah.a. telah membuat suatu pembahasan yang panjang lebar mengenai perbuatan-perbuatan dosa terhadap waliyullah. Namun kami tidak memiliki kesempatan yang cukup untuk mengutip seluruh pembahasan tersebut di sini. Dalam segala hal, saya ( Maulana Zakariyya ) mengingatkan kepada siapa saja, hendaknya jangan ada sedikit pun di dalam hati rasa benci dan rasa ingin menyakiti para kekasih Allah.





Read More or Baca Lebih Lengkap ..

Minggu, 11 Oktober 2009

Jangan Lihat Siapa Yang Bicara Tapi Simak Apa Yang Dibicarakan ( Bag 2 )

Maulana Zakariyya rah.a. tidak hanya menyetujui pemikiran yang menyatakan bahwa memang terkadang di antara para ulama terdapat perbedaan yang tajam, tetapi kita sebagai orang awam juga mesti tahu lebih dulu duduk persoalannya, dan tidak patut berkomentar sembarangan. Perbedaan tajam di antara para ahli kebenaran dalam hal ini ulama, tidaklah serta merta merendahkan martabat mereka dan tidak bertentangan dengan syariat. Bahkan jika terjadi perbedaan di antara ulama- maka – pada derajat yang sama- kedua hujjah/ argumen mereka menjadi semakin kokoh. Lebih luas perbedaan mereka, maka akan lebih kuat lagi jenis hujjah yang mereka hasilkan. Misalnya jika seorang Imam berpendapat bahwa suatu perintah itu wajib, sedangkan Imam lainnya menyatakan bahwa hal tersebut makruh tahrimi ( sangat tidak disukai ), maka sudah tentu hujjah/ argumen keduanya sangat kuat. Inilah yang menyebabkan bahkan para shahabat Nabi saw pun terpaksa bertikai, sehingga terjadi perang di antara mereka.

Menurut sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, seorang shahabat ‘A’ telah mengatakan bahwa sholat witir itu wajib, namun shahabat lainnya, ‘B’, yang tidak sependapat mengatakan bahwa shahabat A tersebut kadzab ( dusta ). Atas masalah ini, alim ulama menafsirkan kembali kata-kata yang secara zhahir terlihat seakan-akan menjatuhkan kepribadian shahabat A tersebut. Walaupun kita berusaha menerjemahkan ucapan Shahabat B dengan lebih halus, demikianlah terjemahan ucapan itu. Namun demikian, menjadi tugas kita, apabila menemukan ucapan seseorang yang keras, hendaknya ucapan itu diterjemahkan dengan hati-hati agar tidak memberi kesan bahwa seseorang itu sedang ‘diserang’. Contoh mengenai hal ini banyak terdapat dalam kitab-kitab hadits.

Para shahabat Nabi telah dimaafkan, walaupun kerap menggunakan kata-kata ( seolah-olah ) keras, karena Rasulullah saw besabda,

“ Ketahuilah ! Janganlah karena merasa segan dengan kehebatan seseorang, ia takut berkata yang haq/ benar, sedangkan ia mengetahui masalah itu ( meyakini kebenaran tersebut ).”

Ketika Abu Said Al Khudri ra. Meriwayatkan hadits ini, beliau menangis, lalu berkata,” Kita telah melihat banyak urusan dan karena kekaguman terhadap seseorang, telah mencegah kita dari berbicara mengenainya.”

Terdapat lagi hadits yang masyhur,

 “ Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, hendaklah ia cegah dengan lidahnya. Dan jika masih tidak mampu, maka ubahlah dengan hatinya. Dan ini adalah selemah-lemah iman.”

Banyak lagi nash mengenai masalah ini yang telah kami kemukakan dalam Risalah Tabligh. Inilah perintah yang mendorong para alim ulama berkata lantang apabila mereka menganggapnya suatu kebenaran. Ketika masalah itu semakin penting, mereka akan lebih tegas dan kokoh lagi pendiriannya dan semakin siap menentang lawan mereka. Namun harus diperhatikan dengan cermat bahwa lawan yang ditentang, memang layak untuk ditentang. Dan ulama yang menentang itu memang ahli dalam ilmunya. Dan tidak semua orang dapat ditentang. Tindakan menentang/ menyerang seseorang itu hendaknya tidak sampai menimbulkan kebingungan dan kesedihannya.

Oleh sebab itu, Maulana Zakariyya berharap dan berdoa agar seluruh kaum muslimin, khususnya alim ulama agar dapat bersatu pandangan terhadap politik yang terbaik bagi masa depan ummat. Namun hal ini tentu akan menimbulkan kegelisahan dan ketidakenakan, karena kita tidak mungkin menyenangkan kedua belah pihak yang saling berbeda pendapat. Di sisi lain, mungkin saja hal ini akan mendatangkan mudharat dari perilaku para pengikut kedua pihak yang berseberangan, yang kadangkala terlalu berlebihan dan keluar dari jalur syariat.

Read More or Baca Lebih Lengkap ..

Jangan Lihat Siapa yang Bicara tapi Simak Apa yang Dibicarakan ( Bag 1 )

Sebuah wasiat yang menakjubkan dari Shahabat Mu'adz bin Jabbal r.a. kepada salah seorang muridnya:

“ Aku memperingatkanmu atas kekhilafan orang bijak, karena syetan kadangkala ikut bertutur kata dari mulut orang-orang yang bijak suatu kalimat yang sesat, dan terkadang dari orang munafiq bertutur kata yang haq/ benar.” Muridnya lalu bertanya,” Bagaimana bisa terjadi demikian? Semoga Allah swt senantiasa menurunkan rahmat-Nya kepada Anda. Jika demikian keadaannya, bagaimana caranya aku mengetahui bahwa seorang yang bijak dan sholeh sedang berkata keliru/salah dan seorang munafiq sedang berkata benar? Bagaimana dapat aku ketahui, mana yang palsu dan mana yang benar?” Mu’adz bin Jabbal r.a. pun berkata,” Berhati-hatilah dengan ucapan;’ Perkataan apa itu?’ ‘ Bagaimana ia bisa berkata demikan?’ Janganlah kata-kata ini memalingkanmu dari orang-orang bijak. Kemungkinan ia akan menarik kata-katanya atau dengan bukti perbuatannya, sehingga engkau akan mendapatkan kebenaran ketika kamu mendengarnya, karena kebenaran itu memiliki nur di dalamnya.”

Mari kita renungkan beberapa hal dari nasehat yang diberikan oleh Mu’adz bin Jabbal r.a. di atas:
1. Mu’adz memberitahu bahwa tidak mutlak perkataan yang benar harus selalu keluar dari orang bijak/alim. Kadangkala orang munafik/ ahli maksiat pun dapat berkata benar. Ini menunjukkan bahwa dengan mendengar sekali saja kata-kata benar dari seseorang, hendaknya tidak harus diikuti secara fanatik. Biasanya kita sangat mudah menjadi pengikut setia ( mu’taqid ) seseorang hanya setelah mendengar ucapan atau tulisannya, dan lalu kita cenderung memujinya setinggi langit. Dan lebih buruk lagi, kadangkala kita menyadari dan memaklumi bahwa orang itu suka bermaksiat dan fasik, tetapi disebabkan ucapannya/ perbuatannya itu sesuai dengan hawa nafsu kita, maka kita berusaha membuktikan bahwa ia adalah seorang waliyullah yang kuat berpegang pada agama, sehingga kita ( naudzubillah ) menempatkannya hampir sederajat dengan para nabi. Tetapi di lain kesempatan, jika setelah itu, ia berbuat atau berkata sesuatu yang tidak sesuai dengan hawa nafsu dan kehendak kita, maka kita melupakan semua ucapannya. Di satu sisi, kita mendukungnya dengan membabi buta, bahkan sampai meneriakkan yel yel ( Hidup....si A ..! Hidup si A.. !! ), tapi saat berikutnya kita bisa menghujatnya dengan kata kata makian ( Mampus kamu !! Mati kamu !! ). Bukankah ini sesuai dengan maksud hadits yang berbunyi,



                    “ Berpagi hari sebagai seorang mukmin dan bermalam hari menjadi seorang kafir? “

2. Mu’adz r.a.berkata bahwa terkadang orang bijak/ alim ulama pun dapat berkata salah dan menyebabkan kesesatan. Oleh sebab itu, jangan mudah berfanatik hanya dengan mendengar satu atau dua kali ucapan seseorang. Sepatutnya kita mengkaji, meneliti dan merenungkan terlebih dahulu perilaku dan keadaan orang tersebut. Jika kita mendapati atau melihat dengan jelas, bahwa kebanyakan kesibukan dan urusan-urusan orang tersebut sesuai dengan syariat yang suci dan mengikuti sunnah Rasulullah saw, maka tentu ia layak kita jadikan tokoh panutan. Tetapi jika sebaliknya, setelah kita amati dan kita menemukan dengan pasti ( tahqiq ) bahwa ternyata banyak sekali perilaku dan perbuatan orang tersebut yang tidak terpuji, hina dan perkataannya kacau, maka tidak selayaknya ia menjadi panutan kita, namun kita jangan menjauhinya. Barangkali ( setelah ia mengkoreksi dirinya sendiri ) akan menarik kembali pernyataannya. Jika ia tidak juga menyadari kekeliruannya, maka menjauhlah darinya.

Demikianlah apa yang dikatakan oleh Mu’adz r.a., baik secara ijmal ( ringkas ) maupun tafsil ( panjang lebar ), bahwa banyak hal yang perlu kita renungkan secara seksama.

Sekarang marilah kita melihat keadaan amalan kita, lalu cobalah kita menilainya. Hendaknya kita menyadari satu hal, yaitu: Apakah masalah yang umumnya berlaku? Mungkin dalam benak kita terdapat pemikiran yang tidak penting. Jika kita mendengar seseorang berbicara dan berpendapat atas suatu masalah, dan itu sesuai dengan jalan pikiran kita, kita akan memujinya dan mendukungnya, serta tanpa ragu-ragu kita akan menutupi kelakuannya yang bertentangan dengan syariat, bahkan menganggapnya sebagai sesuatu yang sepele, padahal itu adalah masalah yang berat dan suatu kezaliman. Seharusnya, hal-hal yang baik dan positif ( sesuai syariat ) darinya kita puji, sedangkan tindakannya yang bertentangan dengan syariat kita kecam. Atau sekurang-kurangnya kita berdiam/ tidak berkomentar atas keburukannya. Namun, hari ini, sebagian besar dari kita menganggap perbuatan-perbuatan tercela mereka sebagai sesuatu hal yang wajar dan lumrah.

Hal yang sebaliknya, jika kita bertemu dengan orang yang menentang atau tidak sejalan dengan ide/ pemikiran kita, kita akan membencinya hingga menganggap semua perbuatannya itu aib belaka, sehingga kita tidak sempat melihat sifat-sifat baik yang ada padanya.

Menurut syariat dan paham rasional, setiap sesuatu hendaknya diletakkan di tempat yang sesuai, tidak dapat ditinggikan atau direndahkan kedudukannya begitu saja. Nabi saw bersabda,


                  “ Dudukkanlah manusia itu menurut kedudukannya ( tidak ditinggikan atau direndahkan )”

Tetapi malangnya, kebanyakan kita telah melampaui batas dalam melihat setiap permasalahan, tidak ada kesederhanaan dan pertimbangan lagi.
Read More or Baca Lebih Lengkap ..

Kenapa Harus Terjadi Perbedaan Pendapat ( Bag 2 ) ?

“............................................................................................................................................”

Sungguh suatu hal yang amat keterlaluan dan tidak beradab, ketika segolongan ummat Islam yang tidak berpengetahuan ( bodoh dalam agama, tapi merasa pintar dan sok tahu ), berani melontarkan kata-kata, komentar-komentar yang tidak patut kepada dua orang shahabat yang mulia ini. Bahkan seyogyanya mereka berdua ini patut dicemburui, karena mereka adalah orang-orang yang senantiasa sibuk dengan perjuangan menegakkan agama Islam yang mulia. Dan sudah sewajarnya mereka mendapatkan derajat dan pahala yang tertinggi dari Allah swt. Dan lebih dari itu, mereka pun mendapatkan limpahan pahala dari orang-orang yang mengumpat dan menghamburkan kata-kata hina kepada mereka. Seolah-olah, para penghina dan pengumpat Shahabat Nabi itu, yang menceburkan diri mereka sendiri dalam kehinaan dengan menghujat para kekasih Allah swt, berkata,” Karena saya sangat marah dengan diri Anda, maka ambillah segala pahala baik, yang telah saya usahakan selama ini”.

Jadi bukankah ini suatu kezaliman yang besar terhadap diri sendiri, dengan menghibahkan pahala amal sholeh kepada orang yang dihujatnya? Berarti orang yang menghujat dan menghina itulah yang sebenarnya orang fakir dan pendosa.

Dalam satu hadits dikatakan, bahwa suatu ketika Rasulullah saw bertanya kepada para shahabatnya,

“ Siapakah orang yang muflis ( bangkrut ) di antara kalian?” Mereka menjawab,” Orang yang tidak berharta.” Beliau menjelaskan.,” Bukan. Orang yang bangkrut adalah seorang yang datang pada hari kiamat dengan kebajikan yang banyak, namun ia telah menzalimi seseorang dan memaki yang ini dan menghina yang itu dan mengambil harta orang lain. Pada hari itu, tidak bernilai lagi dinar dan dirham. Akan diserahkan amal kebajikannya kepada orang yang telah ia zalimi. Dan jika itu semua tidak mencukupi, maka dosa-dosa orang yang dizalimi akan ditimpakan kepada orang yang menzalimi. “ ( dari kitab Majma’ul Fawaid )

Pada hari itu, setiap orang hanya akan diadili amalan baik dan buruknya. Tetapi ada orang-orang, yang karena amal buruknya, menyebabkan semua amal sholehnya diserahkan kepada orang yang telah ia zalimi, sebagai balasan atas kezhalimannya. Bahkan, walaupun semua kebaikannya telah habis diserahkan, keadilan tetap harus ditegakkan, sehingga perbuatan dosa mereka yang dizalimi akan dilimpahkan ke atas orang yang menzalimi.

Sangat mengherankan dengan kelakuan orang-orang jaman sekarang yang sedemikian mudah menghina, mengkritik dan mencela orang-orang shaleh dan para kekasih Allah. Namun di sisi lain pada saat yang sama, justru mereka ini memuji-muji para ahli maksiat, orang fasiq dan orang-orang kafir. Orang-orang Islam yang bodoh ( bodoh dalam perkara agama, dan malas mengaji dan mempelajari hukum-hukum agama. Tidak ada hubungan dengan latar belakang akademis. Meskipun seseorang bergelar insiyur, doctor S5 lulusan perguruan tinggi terkemuka di luar angkasa, tetapi tidak tahu, tidak mau tahu dan malas mempelajari hukum Allah dan sunnah-sunnah Nabi, maka orang seperti ini masuk kategori jahil atau bodoh dalam pandangan Allah swt ) dan error ini, hendaklah memperhatikan hadits di bawah ini:

“ Apabila seorang fasiq dipuji, maka Allah swt akan murka dan Arsy Illahi akan bergoncang.” ( Kitab Misykat ).

Pernyataan di atas janganlah serta merta disimpulkan bahwa kita tidak perlu memberikan pujian atau apresiasi kepada orang lain. Tetapi masalahnya adalah bergantung pada siapa yang perlu dipuji? Dalam kapasitas apa ia harus dipuji? Sejauhmana ia perlu dipuji? Yang harus ditegaskan di sini adalah, bahwa janganlah sekali-kali menghina dan mengkritik secara membabi buta dan tanpa dasar terhadap orang-orang shaleh, dalam hal ini para Shahabat, para Tabi’in, para wali Allah swt, alim ulama, pemimpin-pemimpin pemerintahan yang ikhlas dan taqwa ( bukan karena strategi pencitraan ) dan orang-orang Islam yang awam tetapi memiliki tekad dan kemauan keras untuk belajar dan meningkatkan kualitas iman dan ketaqwaannya dan sangat tidak perlu memuji mereka mereka yang tidak mempedulikan aturan syariat agama.

Sebuah pertanyaan,” Jika seorang shahabat Nabi, atau ulama, atau orang shaleh berbuat suatu kekhilafan atau salah memberikan pertimbangan dalam satu masalah, apakah hal itu bermakna kita harus menutup mata atas semua sifatnya yang mulia?”

Syariat Islam yang suci ini telah mengajarkan kepada kita hingga perkara sekecil apapun dalam masalah kehidupan dan agama kita. Namun, walaupun kita mengaku sebagai pemeluk Islam, nampaknya kita tetap tidak mempedulikannya. Sementara orang-orang dari agama lain, banyak yang mengadopsi ajaran Islam ini, sehingga justru kini mereka menuai kesuksesan, sedangkan kita sibuk menyingkirkan syariat ini dari kehidupan kita yang pada akhirnya kita mendapatkan kerugian yang besar.
Read More or Baca Lebih Lengkap ..

Kenapa Harus Terjadi Perbedaan Pendapat? Bag 1.

Ketahuilah, bahwa tidak pernah terdengar, tidak ada perbedaan pendapat di kalangan orang-orang yang benar-benar shaleh lagi ikhlas. Perbedaan ini akan tetap ada dan akan terus berlangsung hingga masa-masa berikutnya. Bagi orang yang berpengetahuan agama, hal ini tidak mengherankan, bahkan di kalangan alim ulama juga terdapat perbedaan pendapat.

Dalam kuliah hadits Maulana Zakariyya, dimana kalender akademiknya dimulai dari bulan Syawwal dan berakhir di bulan Rajab, selama masa sepuluh bulan perkuliahan tersebut, dapat dikatakan tidak pernah terlewat sehari pun, minimal 20 x dalam sehari—terdengar ucapan,” ... berkenaan dengan masalah ini, Imam fulan berpendapat demikian, Imam fulan lainnya berpendapat demikian...Para shahabat Nabi berpendapat demikian, sedangkan para tabi’in berpendapat demikian, dst..”

Jika kita menyangka bahwa perbedaan yang terjadi itu sebagai tanda kekurangikhlasan mereka, berarti kita sedang menghadapi suatu masalah dan kebingungan yang besar, sebab prasangka demikian berpotensi akan melahirkan suatu dugaan ( na’udzubillahi min dzalik ) bahwa orang-orang seperti shahabat r.a. dan alim ulama di atas—yang tergolong orang-orang mukhlisin—telah tersisih dari barisan kekasih Allah, hanya disebabkan mereka berbeda pendapat.

Tulisan ini merupakan tanggapan Maulana Zakariyya rah.a sehubungan dengan terjadinya perbedaan yang amat tajam di antara 2 orang ulama yang termasyhur di India yaitu Syekh Madani dan Syekh Thanwi. Seperti diketahui, India, pada paruh tahun 1930-1950, diwarnai dengan situasi perpolitikan yang amat hangat. Menghadapi situasi yang demikian dinamis, dua orang ulama memberikan respon dan sikap yang berbeda, tentang bagaimana sebaiknya peran ummat Islam. Di satu pihak, menghendaki ummat Islam harus berjuang secara aktif dalam pemerintahan dan membentuk partai Islam tersendiri, agar bisa memberikan faedah yang maksimal bagi ummat. Namun, di pihak lainnya berpendapat sebaiknya ummat Islam berjuang di luar politik pemerintahan. Di mata kalangan awam, perbedaan kedua ulama terpandang ini, demikian tajam. Tetapi dalam pandangan Maulana Zakariyya, perbedaan pendapat di antara keduanya bukanlah perbedaan yang tajam. Menurutnya, situasi perpolitikan yang terjadi pada saat itulah yang menyebabkan terjadinya perbedaan tersebut.

Maulana Zakariyya mengemukakan, bahwa pada saat ini, seyogyanya orang-orang yang berakal sehat-dengan melihat situasi dan kondisi- untuk berusaha memahami keadaan tersebut sesuai dengan aturan syari’at, sehingga setiap orang/ Ummat Islam dapat memilih jalan yang diyakininya benar, tanpa paksaan orang lain. Sedangkan bagi orang yang tidak memahami seluk beluk permasalahan ini dengan benar, dianjurkan agar ia duduk beberapa hari di majelis mereka, sehingga dapat mengikuti dengan jelas, pendapat mana yang lebih cocok/ kuat untuk diikuti.

                      “ Siapapun di antara mereka yang kamu ikuti, kamu akan mendapatkan petunjuk.”
 
Dengan demikan, kita tidak perlu bertengkar dan berdebat mengenai hal ini.

Maulana Zakariyya justru heran dan bertanya kepada muridnya ( dan juga kepada kebanyakan kaum muslimin awam ) yang terlalu meributkan masalah ikhtilaf atau perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan ulama. Bukankah perbedaan itu tidak hanya terjadi di jaman sekarang saja? Bahkan sudah terjadi di jaman Nabi dan para shahabat? Kalau ada yang berpandangan bahwa perbedaan pendapat itu buruk dan kontraproduktif, maka bagaimana dengan kisah Perang Jamal, yang merupakan buntut dari perbedaan pendapat yang terjadi antara Shahabat Ali r.a. dengan Shahabiah utama sekaligus salah satu istri Nabi yang berkedudukan sebagai Ummahatul Mukminin ( Ibunya orang-orang beriman ), ‘Aisyah r.ha.?
Semua orang Islam hendaknya mengetahui bahwa semua shahabat Nabi, siapapun dia, adalah generasi awal ummat Islam dan mereka telah dinyatakan oleh Nabi sebagai generasi manusia yang terbaik yang pernah Allah tampilkan di atas muka bumi. Tentu tidak diragukan lagi tentang derajat keikhlasan mereka dan pengorbanan mereka yang luar biasa demi tegaknya dien ini. Jadi sungguh tidak punya etika dan sangat sembrono, jika seorang muslim memberikan komentar yang tidak berkualitas, tanpa didasari pengetahuan tentang agama yang memadai, mengenai perbedaan-perbedaan dalam masalah agama.

Maulana Zakariyya bahkan bertanya kepada santrinya,” Beritahukanlah kepada saya, manakah di antara dua golongan dalam Perang Jamal ini ( Yaitu golongan Ali dan golongan Aisyah r.a ), yang akan Anda sisihkan dari barisan orang-orang shaleh dan ikhlas? Dapatkah Anda melakukannya?” Ketika nama Ali disebut, kita akan mengucapkan ‘ Radhiyallahu ‘anhu’ ( semoga Allah meridhoinya ), karena ia seorang khalifah yang benar dan penghulu segala wali Allah. Begitu pula ketika nama ‘Aisyah disebut, kita pun akan berkata ‘ Radhiyallahu ‘anha’, karena beliau adalah Ummul Mukminin ( Ibu orang-orang beriman ) dan istri yang paling dicintai oleh Rasulullah saw. ( catatan: ketika seseorang menyebutkan nama shahabat/ shahabiah ( shahabat wanita ), maka setiap orang Islam hendaknya mengucapkan ‘radhiyallahu anhu ( untuk shahabat laki-laki ) dan atau ‘radhiyallahu ‘anha’ ( bagi shahabat wanita ).

Perselisihan di antara shahabat Ali r.a. dan ‘Aisyah r.ha yang sedemikian tajam bahkan berujung pada perang saudara yang dikenal dengan nama Perang Jamal, menjadikan perang ini akan senantiasa dikenang dalam sejarah ummat Islam sampai hari kiamat. Tentu saja ada hikmah yang besar dari kisah mereka, agar menjadi pelajaran bagi orang-orang beriman.

Bahkan Maulana Zakariyya rha.a memberikan peringatan yang amat tegas kepada santrinya ( dan secara umum kepada kaum muslimin ), agar jangan sekali kali berprasangka buruk kepada 2 orang shaleh ini ( yaitu Ali r.a. dan ‘Aisyah r.ha ), padahal mereka berdua adalah benteng-benteng Islam yang tangguh. Apabila ada perasaan demikian dalam hati kita dan rasa dengki dalam dada kita kepada mereka ( 2 orang sahabat ini ), maka ini sama sekali tidak akan merugikan mereka berdua sedikitpun, namun kitalah, ummat Islam, yang akan mendapatkan kerugian dan kesulitan yang besar.
Read More or Baca Lebih Lengkap ..

What Does This Blog Talk? Blog ini Bicara Tentang...

Lorem Ipsum

  © Blogger templates Romantico by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP