Tampilkan postingan dengan label Jihad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jihad. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Juli 2010

Siapakah Orang Yang Disebut Syahid? ( Bagian 2 )

Pengarang Bahjatun-Nufus menulis, "Jika seseorang melihat atau menganggap semua amal ibadahnya telah sempurna dari semua sisi, maka ia tidak akan dapat melakukannya karena dua sebab: "Pertama, ia akan terhenti melakukannya ( merasa puas ). Kedua, kadangkala amal-amal ibadah datang dalam waktu bersamaan, sehingga ia hanya dapat melakukan salah satu amalan dengan baik." Rasulullah saw. bersabda,

"Barangsiapa melatih hewan ( tunggangannya ), niscaya ia tetap tidak berdaya menghadapi rentang jarak ( perjalanannya ), atau hewannya tidak dapat bertahan lama."

Hadits yang dikutip oleh penyusun Bahjatun-Nufus ini adalah penggalan dari hadits panjang yang telah diriwayatkan oleh banyak sahabat. Allamah Sakhawi rah.a. menyatakannya sebagai hadits masyhur, namun sebagian ulama mempersoalkan keshahihannya. Hadits itu secara sempurna berbunyi demikian;

"Sesungguhnya agama ini kuat, maka berjalanlah di dalamnya secara perlahan. Sesungguhnya siapa yang meletihkan hewan tunggangannya, niscaya ia tidak akan sampai ke tujuannya dan tunggangannya tidak dapat bertahan lama."

Dan dalam hadits yang dikutip sebelumnya memberi pengertian;



"Maka berjalan luruslah dan merapatlah..." Dengan kata lain, "Berjalanlah dengan langkah sederhana. Jangan melampaui apa yang difardhukan dalam agama. Jangan terlalu menjaga yang mandub atau mustahab, sehingga yang fardhu diabaikan."

Suatu ketika, Umar ra. melihat Sulaiman bin Abi Hathma ra tidak hadir dalam shalat Shubuh. Setelah shalat, ia pergi ke pasar dan melewati tokonya. Ia pun masuk dan bertanya pada ibunda Sulaiman, "Mengapa tidak kulihat Sulaiman shalat Shubuh di masjid pagi ini?" Jawab ibunya,” Dia shalat nafil/ sunnah sepanjang malam, sehingga tertidur oleh kantuknya " Umar ra menjawab, "Aku lebih suka shalat Shubuh dengan berjamaah daripada beribadah sepanjang malam."
Beribadah sepanjang malam memang sangat dianjurkan, tetapi sebaliknya shalat Shubuh dengan berjamaah lebih ditekankan lagi. Oleh sebab itulah, hal itu lebih disukai oleh Umar ra..

Banyak hadits yang menekankan, bahwa hukum syariat agama mengandung tingkatan-tingkatan khusus, sesuai dengan kepentingan dan kelebihannya. Tidak dibenarkan siapapun meninggalkan dan merendahkannya hanya karena sibuk dengan suatu aktifitas, lalu menganggap usahanyalah yang terbaik dan mengesampingkan usaha orang lain. Sikap demikian sangatlah tidak bijaksana.



Maulana Zakariyya tidak melarang para aktifis dakwah politik untuk melakukan aktifitasnya serta mengajak dan meyakinkan orang lain agar terlibat dalam aktifitas mereka. Maksud sebenarnya adalah, agar para aktifis politik itu tidak fanatik bahwa aktifitas mereka sajalah yang penting, sehingga mereka menjadi terlalu berlebihan di dalamnya. Akibatnya mereka akan menghalalkan segala cara. Hendaknya tidak terjadi, para aktifis politik itu memandang bahwa orang yang tidak terlibat dengan aktifitas politik mereka adalah penghuni neraka, tidak beriman, bahkan kafir.

Demikianlah apa yang bisa kita lihat dan saksikan hari ini ketika membaca artikel, surat kabar maupun kita dengar dan tonton pidato-pidato mereka yang membabi buta dalam aktifitas politiknya. Yang paling mengherankan, semua tuduhan tersebut datang dari orang-orang yang terpandang dan ditokohkan oleh masyarakat. Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa membuat tuduhan-tuduhan palsu terhadap seseorang, maka pada hari Kiamat, Allah akan meleburkannya ke dalam neraka jahannam, sehingga ia dapat membuktikan kebenaran tuduhannya itu." ( Sumber: Kitab Durrul Mantsur ).
Maksud 'lebur' di sini ialah dibakar di dalam api neraka, sehingga darah dari tubuhnya berubah menjadi darah dan nanah yang bergolak dan meleleh. Sebelum ia dapat membuktikan tuduhannya itu, ia tidak akan dikeluarkan dari neraka Jahannam. Jika ternyata berkata dusta yang tidak dilakukan oleh orang itu, maka bagaimana ia dapat membuktikannya? Otomatis, bagaimana ia dapat keluar dari neraka?

Dalam keadaan demikian, baik diminta ataupun tidak, Allah akan memberikan sebagian pahala amalannya kepada yang dituduh itu sebagai ganti. Jika ia tidak memiliki amalan baik, maka gantinya adalah sebagian dosa orang yang tertuduh itu dibebankan kepada si penuduh itu. Dalam pandangan siapapun yang menyaksikan suasana ini, tentu akan terasa getir dan memilukan. Pada hari itu, setiap orang akan berdiri di hadapan Allah dalam keadaan hina.
Wallohu a'lam
Read More or Baca Lebih Lengkap ..

Siapakah Orang Yang Disebut Syahid? ( Bagian 1 )

Suatu ketika, Rasulullah saw. menziarahi Abdullah bin Tsabit ra. yang sedang sakit. Ketika tiba di sana, beliau melihatnya diam tidak berkata apapun. Rasulullah saw. bercakap-cakap dengannya, tetapi dia tidak menjawab. Melihat hal ini, Rasulullah saw. membaca,

"Sesungguhnya dari Allah kita datang dan sesungguhnya kepada-Nyalah kita akan kembali.

Kami telah pasrah atas apa yang terjadi terhadapmu karena mati telah ditakdirkan dan telah terjadi ke atasmu" Ketika para wanita yang berada di dalam rumah tersebut mendengarnya, mereka pun menangis karena mereka paham bahwa maut telah tiba. Dengan sedih putrinya berkata, "Kuharap ayahku mati syahid karena ayah telah menyediakan peralatan untuk jihad." Rasulullah saw. menjawab, "Sesungguhnya ia telah menerima pahala karena niatnya. Apa yang kamu pahami tentang syahid?" Putrinya menjawab, "Mati terbunuh di jalan Allah." Jawab Rasulullah saw., "Selain terbunuh demikian, ada tujuh jenis syahid. Barangsiapa mati karena tha'un ( wabah penyakit/ pandemi ), ia mati syahid. Siapa yang mati karena tenggelam, ia mati syahid. Siapa yang mati karena sesak nafas, ia mati syahid. Siapa yang mati terbakar, ia mati syahid. Siapa yang mati karena kecelakaan/tertimpa reruntuhan, ia mati syahid. Wanita-wanita yang mati karena melahirkan anak, juga mati syahid." ( Sumber: Kitab Al-Muwaththa' Imam Malik ).

Terdapat berbagai penafsiran mengenai mati karena sakit perut. Ada sebagian yang mengatakannya busung ( istisqa ), sebagian mengatakan biri-biri ( ishal ), sebagian mengatakan kembung ( qaulanj ), sebagian lagi mengatakan segala jenis sakit perut.

Menurut riwayat lain, putrinya berkata, ia hanya mengetahui bahwa syahid itu hanya orang yang mati berjuang di jalan Allah. Rasulullah saw. menjawab, "Jika demikian, sedikit sekali jumlah umatku yang akan mati syahid." Kemudian Rasulullah saw. menyebutkan semua jenis mati syahid. Selain tujuh jenis syahid tersebut, masih terdapat lagi kira-kira enam puluh jenis mati yang dikabargembirakan oleh hadits dengan kesyahidan. Dalam kitab Awjazul Masalik juz XX , penulis yang hina ini ( Maulana Zakariyya ) telah membahas masalah tersebut.

Sangatlah menakjubkan ketika Allah dan Rasul-Nya telah menunjukkan jalan dan sebab-sebab kesuksesan dan kemajuan serta kelebihan umat Muhammad saw., pada saat yang sama, umat ini sendiri ( ketika bertikai satu sama lain ), sedang menyempitkan pintu rahmat yang khusus ini. Suatu kesalahan umum pada hari ini, dimana mereka yang aktif dalam salah satu jenis kegiatan agama, baik ta'lim, tabligh, jihad, suluk ( latihan kerohanian ), menganggap aktifitas keagamaan yang lain itu membuang waktu dengan sia-sia. Kadangkala, tanpa ragu lagi mereka menuduh orang lain itu sesat. Mereka membatasi segala aspek dan usaha demi kemajuan Islam dalam lingkungan kegiatan mereka saja. Seolah-olah mereka telah menyisihkan usaha-usaha agama lainnya dari lingkungan Islam. Padahal Rasulullah saw. bersabda, "Islam itu mudah, barangsiapa mempersulit, maka ia akan kalah. Oleh sebab itu, berjalanlah dengan lurus, ikutilah ia dengan sebenarnya dan berilah berita gembira kepada orang-orang ( atas amal baik mereka )." ( Hadits Riwayat Bukhari ).

Rasulullah saw. bersabda, "Permudahlah masalah, jangan mempersulit. Berilah kabar gembira dan jangan menimbulkan kebencian mereka kepada agama." ( Durrul Mantsur ).

Pengarang 'Bahjatul Nufus' menulis; suatu ketika, Abu Bakar ra. bertanya kepada Rasulullah saw., "Dengan apa engkau diutus ( kepada manusia )?" Beliau menjawab, "Dengan akal." ( bermakna hukum syariat juga hendaknya dalam situasi tertentu diikuti oleh akal ). Kemudian Abu Bakar ra. bertanya, "Siapakah yang akan menjamin ketetapan akal ( karena manusia berbeda akal dan pemahamannya )?" Rasulullah saw. menjawab, "Akal tidak ada batasnya, tetapi siapapun yang memahami apa yang dihalalkan oleh Allah itu halal dan apa yang diharamkan oleh Allah itu haram, maka dialah orang yang berakal. Jika dia mencoba keluar daripada itu, ia akan menjadi seorang abid. Dan jika ia mencobanya lagi, maka ia akan menjadi jawad ( berani dan pemurah )."

Dengan demikian, seseorang yang berusaha keras dalam ibadah dan berani serta gigih dalam beramal shaleh, tetapi ia tidak cukup pandai dalam memilih yang halal dan menolak yang haram, maka usahanya adalah sia-sia di dunia ini, walaupun mereka telah menganggap telah berbuat sesuatu yang baik.

Hendaklah dipahami dengan baik, bahwa seseorang yang mengharamkan sesuatu yang dihalalkan oleh Allah, sesungguhnya ia telah menunjukkan ketidakpahaman dirinya terhadap agama. Demikian pula, orang yang sangat picik dalam beragama, atau berusaha menukar ajaran agama, hal itu menunjukkan ketidakpahaman dirinya. Dan ia telah berbuat tanpa akal sehatnya.

Wallohu a'lam



Read More or Baca Lebih Lengkap ..

Selasa, 20 Juli 2010

Apa Itu Jihad?

Dalam bagian ini, Maulana Zakariyya ingin menegaskan apa maksud jihad yang sebenarnya. Jihad bukan hanya berperang dan saling membunuh, walaupun itu diakui sebagai suatu peringkat yang tinggi dalam jihad. Namun segala usaha yang meninggikan kalimat Allah dan memperkuat Islam serta menjadikan agama di atas segalanya termasuk dalam kategori jihad. Rasulullah saw. bersabda, "Jihad yang terbaik ialah mengatakan yang haq di hadapan Raja zhalim." Atas dasar ini, setiap usaha di bidang yang mendatangkan kebajikan bagi Islam dan kaum muslimin termasuk dalam konsep jihad.

Setelah menyatakan ini, perlu saya peringatkan tanpa ragu lagi; bahwa mereka yang terlibat politik jenis ini, telah melakukan suatu faedah yang sangat penting. Sayangnya, sebagian ahli politik acap kali bertingkah yang berlebihan, sehingga mereka melancarkan kritik dan cercaan terhadap lawannya. Perbuatan demikian, belum dapat dikatakan ia berpolitik Islami. Akibatnya, para pengecam akan memandang bahwa semua ibadah dan amal shalehnya tidak bernilai, sampai mereka berani menuduhnya sebagai seorang fasik dan fajir (pendosa). Bahkan ada yang mencapnya sebagai ahli jahanam dan kafir. Ini adalah kesalahan yang sangat besar. Jika sikap di atas berhukum fardu ain bagi setiap muslim, maka mereka yang tidak mempedulikannya mungkin tidak berbuat dosa besar, maka mengapa harus dikatakan kafir tanpa bukti syar'i yang kuat. Sesungguhnya hal ini adalah suatu kesalahan yang sangat dahsyat. Rasulullah saw. bersabda, "Azas iman terletak atas tiga masalah. Salah satunya ialah seseorang yang telah menerima kalimat Tauhid jangan dicap kafir jika ia berbuat dosa." (Sumber: Kitab Misykatul Mashabik ).

Menurut hadits yang lain, "Barangsiapa menyatakan fasik atau kafir terhadap seseorang, sedangkan ia tidak demikian, maka tuduhan itu kembali kepada orang yang mengatakannya." Hadits lain menyebutkan, "Apabila seseorang mengatakan kafir atau musuh Allah terhadap seseorang dan orang itu tidak demikian, maka tuduhan itu kembali kepada orang yang mengatakannya." ( Sumber: Kitab Misykat ).

Ini bermakna, bencana dan malapetaka akan menimpa dirinya. Oleh sebab itu, hendaklah berhati-hati dalam bertutur kata. Kadangkala ketika seseorang itu marah, mungkin terucap olehnya, "..... orang itu tidak bisa diampuni..., atau .... si fulan tidak akan diampuni oleh Allah...." Betapa besar kesalahan ini. Dan yang sangat membuat saya bersedih adalah jika yang mengeluarkan kata-kata ini adalah seorang ulama dan terpelajar.

Nabi saw. bersabda, "Jika seseorang berkata, ‘Aku bersumpah dengan nama Allah bahwa Allah tidak akan mengampuni si fulan dan si fulan. Allah menjawab, ‘Siapa orang ini yang bersumpah dengan nama-Ku bahwa Aku tidak akan mengampuni orang itu? Sesungguhnya Aku telah mengampuni orang itu. Sedangkan bagi orang yang bersumpah itu, Ku-katakan kepadanya, ‘Semua amalanmu batal dan sia-sia.’”

Menurut sebuah hadits, terdapat dua orang dari kalangan Bani Israil. Seorang 'abid ( ahli ibadah ) dan seorang pendosa besar. 'Abid selalu memperingatkan pendosa atas dosa-dosanya. Hingga pada suatu hari, si 'abid melihat si pendosa melakukan dosa besar, lalu ia berkata kepada pendosa tadi, "Aku bersumpah dengan nama Allah, Allah tidak akan mengampunimu."
Singkat cerita, ketika keduanya telah meninggal dunia dan keduanya dibawa ke hadapan Allah swt. Allah berfirman kepada 'abid, "Apakah kamu menganggap bahwa kamu dapat menahan nikmat-nikmat-Ku yang akan Ku-turunkan dengan sumpahmu ( bahwa Aku tidak akan mengampuninya? )." Dan kepada pendosa tadi Allah berfirman, "Masuklah ke dalam surga dengan Rahmat-Ku." Kemudian diperintahkan agar si 'abid itu dimasukkan ke neraka.
Mengenai si 'abid dalam hadits ini Abu Hurairah ra. berkata, "Disebabkan satu masalah yang diucapkannya, dia membinasakan dunia dan akhiratnya." (Jam'ul Fawaid).

Maksud saya mengutip hadits ini, untuk menunjukkan betapa bodoh orang yang mengucapkan perkataan tersebut ketika marah. Lebih parah lagi jika ucapan itu berbentuk penghinaan dan mencerca agama dan ulama. Suatu permisalan yang sering kami dengar dan diucapkan dengan nada menghina, adalah ucapan, "...... banyak pintu ke surga. Para ustadz telah memudahkan jalan untuk masuk surga, yaitu hanya dengan shalat dan berpuasa, kemudian masuk surga........."

Ucapan-ucapan seperti itu mereka gunakan untuk mempermainkan agama yang diucapkan terang-terangan dengan penuh semangat dalam ceramah-ceramah mereka. Dengan cara itulah mereka menghina agama dan hamba-hamba Allah yang memelihara keshahihan agamanya.
Sebenarnya, terdapat banyak pintu menuju surga, tapi apa perlunya kita menghina, mencandakannya atau membuat pernyataan yang merendahkannya?

Sebagaimana hukum agama lainnya, jihad juga termasuk bagian dari hukum agama. Allamah Shami rah.a. menyatakan bahwa shalat fardhu tepat pada waktunya dengan menjaga tata tertibnya, dinilai lebih utama daripada jihad, sebab jihad adalah untuk menegakkan iman dan shalat, sedangkan shalat itu sendiri adalah tujuan yang mengandung keistimewaan tersendiri. (Shami)
Dengan demikian, mengatakan bahwa shalat dan puasa seseorang itu tidak berguna, karena tidak menyertai jihad adalah suatu kesalahan besar. Seorang sahabat datang menemui Rasulullah saw. berniat pergi berjihad. Rasulullah saw. bertanya kepadanya, "Apakah ibu bapak masih hidup." "Ya, masih hidup." Jawabnya. Beliau bersabda, "Kembalilah dan layanilah mereka dengan sebaik-baiknya."
Pada saat lain, seorang sahabat menemui Rasulullah saw., lalu berkata, "Namaku telah tertulis untuk pergi jihad ( dengan kerelaanku ), sedangkan istriku akan pergi haji." Jawab Rasulullah saw., "Pergilah haji bersama istrimu." (Bukhari, Muslim - Misykat).

Menurut hadits lain, seorang sahabat datang menemui Rasulullah saw., lalu berkata, "Aku datang ke sini ingin berjihad dan ingin bermusyawarah dengan engkau." Rasulullah saw. bertanya, "Apakah ibumu masih hidup?" Dijawab, "Ya, masih hidup." Beliau bersabda, "Tinggallah bersamanya, karena surga berada di bawah telapak kakinya." (Misykat).


Seorang Arab Badui datang bermusyawarah dengan Rasulullah saw. untuk berhijrah. Rasulullah saw. bersabda, "Hijrah adalah sesuatu yang sangat sukar. Adakah kamu memiliki unta-unta?" "Ya," jawabnya. Tanya Rasulullah saw., "Adakah kamu telah mengeluarkan zakat dari unta-unta ini?" "Ya, telah kukeluarkan," jawabnya. Beliau bersabda, "Tetaplah kamu beramal shaleh dimanapun berada. Walaupun amalanmu membentang lautan, Allah sama sekali tidak akan mengurangi pahala amal shalehmu." (AbuDawud).

Ringkasnya, banyak hadits yang serupa dengannya, di mana Rasulullah saw. memilih amal shaleh lainnya dibandingkan berjihad yang hakiki, karena hal ini pun dianggap dalam kategori jihad.

Kita setuju dan memahami, bahwa pada saat tertentu, dalam sebab dan keadaan tertentu, berjihad adalah amalan yang tertinggi, sehingga pada saat perang Khandak menentang Ahzab, sekali atau lebih Rasulullah saw. terpaksa menangguhkan shalat di luar waktu ( diqadha' ). Namun hal ini bukan suatu aturan umum, bahwa ketika tidak ada jihad, amal shaleh yang lain tidak diterima, khususnya bagi kesalahan-kesalahan dimana terdapat alasan-alasan yang wajar.

Pernah suatu ketika, Rasulullah saw. berjihad di luar kota Madinah. Di tengah jalan, beliau bersabda, "Di belakangmu ada orang-orang yang pahala mereka sama dengan setiap langkah yang kalian langkahkan ke medan jihad, setiap harta yang kamu belanjakan, dan setiap kesulitan yang kalian alami, padahal mereka masih berada di Madinah." Para sahabat terperanjat, lalu bertanya, "Bagaimana mereka mendapatkan pahala, padahal mereka tinggal di rumah-rumah mereka?" Rasulullah saw. menjawab, "Disebabkan suatu urusan dan udzur mereka, mereka terpaksa tertinggal." (Abu Dawud).

Maksud hadits ini telah didukung oleh banyak hadits yang sama. Salah satunya, adalah hadits yang berbunyi, "Barangsiapa sakit atau bepergian ( sehingga ia tidak dapat beramal harian dengan sempurna ) ia akan menerima pahala yang sama, sebagaimana yang ia terima ketika sehat atau menetap ( tidak bersafar )." (Sumber: Kitab Misykat).

Sebuah hadits menyatakan, "Apabila seorang yang selalu sibuk beramal shaleh jatuh sakit, maka malaikat yang ditugaskan menulis amal shalehnya itu akan diperintahkan terus menulis pahala amal baiknya, seolah-olah ia telah melakukannya." (Misykat).
Sebuah hadits lain menyatakan bahwa apabila seseorang dipaksa melakukan suatu amalan yang dilarang, sedangkan ia tidak menyukainya, namun ia tidak mempunyai pilihan lain dan terpaksa mengikutinya, maka ia dianggap tidak mengikutinya. Dan jika seseorang menyukai amalan tersebut, walaupun ia tidak berada di situ, maka ia seolah-olah menyertai perbuatan tersebut. (Misykat).

Sebuah hadits lain yang hampir sama berbunyi, "Barangsiapa keluar dengan alasan mencari nafkah untuk membiayai hidup anak-anaknya yang masih kecil, maka ia seolah-olah berada di jalan Allah. Dan barang siapa keluar untuk menolong orang tuanya yang sudah tua, ia juga berada di jalan Allah."



Read More or Baca Lebih Lengkap ..

Jihad Dan Keikhlasan

Sesungguhnya terdapat berbagai hadits yang memerintahkan kaum muslimin agar berjuang di jalan Allah, yang disertai penjelasan mengenai berbagai ganjaran dan pahalanya. Juga terdapat peringatan-peringatan jika kaum muslimin mengabaikan tugas tersebut.

Demikianlah jihad, yang segala daya dan upaya untuk meninggikan dan menjayakan Islam dan mengalahkan segala usaha orang-orang kafir. Jadi, segala usaha yang berkaitan dengannya termasuk dalam pengertian jihad fiisabilillah.

Sebuah hadits meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Jihad yang paling afdhal adalah menyatakan yang haq di hadapan Raja yang zhalim." Hal ini pun bermakna, bukan hanya di hadapan Raja kafir, di hadapan Raja muslim yang zhalim pun termasuk jihad. Pengertian yang terpenting adalah adanya syarat, bahwa usaha serta perjuangannya itu semata-mata untuk memperkuat dan memuliakan Islam.

Seseorang bertanya kepada Rasulullah saw., "Bagaimana jika seseorang berjihad dengan maksud untuk mendapatkan ghanimah ( harta rampasan ), dan seseorang ( berjihad ) untuk menunjukkan kekuatan serta keberaniannya, dan seseorang ( berjihad ) untuk kemasyhuran dirinya. Manakah di antara semua itu yang paling diterima?" Jawab Rasululah saw., "Jihad yang hanya dilakukan untuk meninggikan kalimat Allah."

Dalam hadits yang lain disebutkan, ada seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw., "Seseorang pergi berjihad untuk mendapatkan manfaat dunia." Jawab Rasulullah saw., "Dia tidak menerima pahala apapun." Mendengar hal ini para sahabat terperanjat. Mereka berkata kepada sahabat yang bertanya, "Mungkin kamu tidak bertanya dengan jelas." Sahabat itu pun bertanya sekali lagi. Rasulullah saw. menjawab dengan jawaban yang sama. Ketika sahabat itu bertanya sekali lagi, jawaban yang ketiga pun demikian.
Seorang sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, Terangkanlah kepadaku hakekat jihad." Rasulullah saw. menjawab, "Jika kamu berjihad karena Allah untuk mendapatkan pahala dari-Nya, maka pada hari Kiamat kamu akan dibangkitkan seperti demikian. Dan jika kamu berjihad untuk menunjukkan kekuatan, keberanian, kemashyuran dan kemewahan duniawi, maka kamu akan dibangkitkan pada hari Kiamat sesuai dengan yang diniatkan." Dalam kata lain, "Sebagaimana niatmu, demikianlah kebangkitanmu."

Sebuah hadits memberitakan bahwa orang yang berjihad terbagi menjadi dua jenis: Pertama, yaitu orang yang berjihad hanya untuk mendapat ridha Allah, mentaati pemimpinnya, membelanjakan apa yang disukainya di jalan Allah, bersikap ramah terhadap para sahabatnya dan menjauhi segala kerusakan. Tidurnya orang yang demikian semuanya berpahala. Kedua, orang yang melakukan semuanya hanya untuk riya dan kemasyhuran, tidak mentaati pemimpinnya dan berbuat kerusakan di dalamnya. Orang ini walaupun kembali, tidak lagi sebagaimana niatnya untuk jihad ( dengan kata lain dosanya lebih berat daripada amal baiknya dan ketika kembali ia dibebani dosa-dosa yang lebih banyak ). Dan masih banyak hadits lain yang menegaskan masalah yang sama.

Dengan demikian, syarat utama bagi kita, hendaknya melakukan segala apapun semata-mata ikhlas demi mendapat ridha Allah agar kebenaran agama ini dapat tersebar. Menurut pendapat ulama ahli wara, usaha apapun yang dilakukan dengan niat demikian, Insya Allah tidak ada yang tidak akan diberi pahala. Tidak diragukan lagi, bahwa syarat utama dalam beramal shaleh apapun, adalah dilakukan dengan ikhlas karena Allah dan menjadikannya sebagai maksud utama.

Kita telah mengetahui sebuah hadits masyhur mengenai mereka yang pertama kali akan dipanggil pada hari Kiamat untuk dihisab. Yang pertama adalah si syahid. Allah akan mengingatkannya dengan berbagai nikmat yang telah dikaruniakan kepadanya. Dan ia mengakui nikmat-nikmat tersebut. Kemudian ia ditanya, "Bagaimana kamu menggunakan nikmat-nikmat itu?" Dia menjawab, "Aku telah mengorbankan nyawaku di jalan-Mu karena Allah, karena itulah pengorbanan yang paling Engkau sukai," maka suatu jawaban terdengar, "Kamu dusta, kamu telah melakukannya agar orang-orang mengatakan bahwa kamu adalah seorang pemberani," dan mereka telah menyebutnya demikian ( maksudmu telah tercapai ). Kemudian terdengar perintah agar ia dicampakkan ke dalam neraka. Yang kedua adalah seorang ulama dipanggil untuk dihisab. Allah akan mengingatkannya dengan berbagai nikmat yang telah dikaruniakan kepadanya dan ia pun mengakuinya. Dia ditanya bagaimana ia menggunakan nikmat-nikmat tersebut. Dia menjawab, "Aku keluar untuk mencari ilmu, mengajar orang-orang dan membaca dan mengajarkan Al Qur’an." Lalu ada jawaban yang terdengar, "Kamu dusta, sesungguhnya semua itu kamu lakukan agar orang-orang mengatakan bahwa kamu adalah ulama dan qori yang bagus. Dan kamu telah dikatakan demikian (maksudmu telah tercapai)." Kemudian terdengar suara yang memerin-tahkan agar ia dicampakkan ke dalam neraka. Kemudian orang kaya dipanggil. Dia diperingatkan oleh Allah atas nikmat-nikmat-Nya. Ketika ia ditanya bagaimana ia menggunakan nikmat-nikmat tersebut, ia menjawab, "Tiada suatu apapun yang saya gunakan yang tidak disukai oleh-Mu, semuanya telah kubelanjakan karena-Mu." Maka dijawab, "Kamu dusta, sesungguhnya kamu telah membelanjakannya agar orang-orang berkata kamu seorang dermawan. Dan orang-orang telah menyebutmu demikian ( maksudmu telah tercapai )." Kemudian terdengar suatu perintah menyuruhnya agar ia dicampakkan ke dalam neraka." ( Misykat ).

Banyak kitab hadits yang membicarakan masalah ini. Oleh sebab itu, masalah yang terpenting ketika beramal shaleh adalah ikhlas ketika melakukannya. Banyak amalan yang dapat membuat niat seseorang memperoleh kemasyhuran. Oleh sebab itu, secara logika, jika godaan yang datang itu besar, kaum muslimin harus lebih berwaspada lagi.

Dalam dunia politik, sangat terbentang luas kecondongan untuk membanggakan diri, menyombongkan kesuksesannya, ingin dipuji, dan berbagai hal lainnya yang serupa dengannya. Seseorang dapat tergoda dalam perjuangannya untuk mencari nama dan kemasyhuran, sehingga siapapun yang terjun ke bidang politik, hendaklah menyelamatkan diri agar aktifitas yang dilakukannya benar-benar dapat mendatangkan manfaaat bagi Islam dan kaum muslimin. Oleh karena itu, politik hendaknya diniatkan semata-mata untuk menyelamatkan Islam dan kaum muslimin dan menyelamatkan mereka dari tipu daya serta kezhaliman orang-orang kafir.

Jika ini yang menjadi landasan bagi para politikus, maka siapapun tidak dapat menafikkan kebaikannya dan menilainya sebagai amal shaleh. Jika keadaannya demikian, maka siapakah di antara kaum muslimin yang dapat menafikannya dan tidak berminat untuk ikut melakukannya? Sekiranya ada yang tidak mampu melibatkan diri dalam kancah politik, maka ia dapat mencoba dengan kekuatannya sendiri untuk membantu mereka yang ikhlas memperjuangkan agama yang suci ini, bukan malah menjadi penghalang bagi mereka. Nabi saw. bersabda, "Barangsiapa menginfakkan apapun di jalan Allah sedang ia tinggal di rumahnya, maka setiap dirham yang dibelanjakannya akan berpahala tujuh ratus dirham. Dan jika dia sendiri yang keluar di jalan Allah, maka setiap dirham yang dibelanjakannya akan berpahala tujuh ribu dirham." ( Misykat ).

Bahkan saya katakan kepada Anda, bahwa orang-orang yang disebabkan kesibukan dalam urusan agama ( udzur syar'I ), sehingga ia tidak dapat menyertai perjuangan kaum muslimin, janganlah berdiam diri dan membantu mereka yang benar-benar berjuang baik dengan harta, diri, tenaga atau tulisan agama. Betapa luas kemurahan dan nikmat Allah, sehingga orang-orang yang tidak mampu, yang pemalas, yang kurang berani, atau mereka yang lemah, Allah tidak menutup pintu ibadah bagi mereka. Sedangkan bagi orang yang sering beralasan, baik yang wajar atau yang tidak wajar, itu masalah lain. Allah berfirman,
                            "Dan Allahlah yang mengaruniakan kemampuan untuk mencapai apa yang
                             disukai dan diridhahi-Nya, "


Read More or Baca Lebih Lengkap ..

What Does This Blog Talk? Blog ini Bicara Tentang...

Lorem Ipsum

  © Blogger templates Romantico by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP