Tampilkan postingan dengan label Kebebasan Berpendapat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kebebasan Berpendapat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Juli 2010

Menjaga Lisan ( Bagian 3 )

Pada hari ini, agama telah menjadi tujuan untuk roti ( Bicara agama untuk dunia/ mencari nafkah ) kita. Agama, kita gunakan untuk menimbun harta. Cita-cita kita tertumpu untuk memperoleh harta dan kedudukan di dunia. Disebabkan keinginan untuk memperoleh kedudukan, harga diri atau keuntungan duniawi yang busuk ini, maka kita tidak mempedulikan harga diri orang lain, sehingga kita tidak malu lagi berkata dusta atau bersumpah palsu untuk mendapatkannya. Padahal, sebagaimana diketahui bahwa seorang muslim itu pantang berkata dusta. Rasulullah saw. bersabda, "Apabila seorang muslim berdusta, maka malaikat Rahmat akan lari sejauh satu kilo dari bau busuk yang keluar dari mulutnya." ( Sumber: Kitab Misykat ). Seolah-olah bau yang keluar itu tersebar sejauh itu.

Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw., "Ya Rasulullah, mungkinkah seorang mukmin itu menjadi Dayyuts?" Jawab beliau, "Ya, mungkin saja." Sahabat itu bertanya, "Mungkinkah seorang mukmin itu menjadi bakhil?" Rasulullah saw. menjawab, "Ya, mungkin." Sahabat itu bertanya lagi, "Mungkinkah ia menjadi pendusta." Jawab Rasulullah saw., "Tidak, seorang mukmin tidak mungkin berdusta." ( Misykat ).

Abu Bakar ra. berkata, "Jauhilah dirimu dari berkata dusta karena dusta menjauhkanmu dari keimanan." ( Sumber: Kitab Durrul Mantsur ).

Aisyah ra. berkata, "Tiada sesuatu yang lebih dibenci oleh Rasulullah saw. daripada dusta. Apabila beliau mengetahui seseorang itu telah berkata dusta, maka beliau akan merasa gelisah, sehingga beliau tahu bahwa orang itu telah bertaubat." ( Durrul Mantsur ).

Abdullah bin Umar ra. berkata, "Suatu ketika, kami bertanya kepada Rasulullah saw., "Siapakah yang terbaik di kalangan manusia?" Jawab beliau, "Setiap orang yang berhati terbuka dan lidah yang benar." Kami bertanya lagi, "Kami tahu apa itu lidah yang benar, tetapi apa maksud hati yang terbuka?" Beliau menjawab, "Hati yang terbuka ialah seorang muttaqin ( ahli takwa ), lurus ( jalan hidupnya ), tidak berbuat dosa, tidak zhalim, tidak berhasad dengki." ( Hadits Riwayat Ibnu Majah ).

Umar ra. berkata, "Kamu tidak akan mendapati seorang mukmin itu pendusta." Anas ra. berkata, "Melalui maksiat berkata dusta, seseorang itu dinafikan berpuasa pada siang hari dan bertahajjud pada malam harinya." Fudhail bin lyadh rah.a. --seorang ahli sufi yang terkenal--, berkata, "Seseorang itu tidak dihiasi begitu banyak, sebagaimana yang ia dihiasi oleh nafkah yang halal dan berkata benar." ( Durrul Mantsur ).

Uqbah bin Amir ra. berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah saw., "Jalan apakah untuk mencapai keselamatan?" Rasulullah saw. menjawab, "Jagalah lidahmu, tinggallah di dalam rumahmu ( tidak keluar tanpa suatu urusan penting ), dan tangisilah dosa-dosamu." ( Kitab Misykat ).



Read More or Baca Lebih Lengkap ..

Menjaga lisan ( Bagian 2 )

Rasulullah saw. bertanya, "Tahukah kamu apa itu ghibah?" Para sahabat menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu." Beliau bersabda, "Ghibah yaitu menyebut sesuatu mengenai saudaramu yang tidak ia sukai." Seorang sahabat bertanya, "Bagaimana jika kesalahan itu memang ada padanya?" Jawab beliau, " Itulah ghibah. Sedangkan jika hal itu tidak ada padanya, itu adalah fitnah." ( Sumber: Kitab At-Targhib ).

Jika suatu keburukan seseorang itu disebut-sebut dengan maksud menunjukkan kesalahannya, maka itu adalah haram dan dosa. Namun, jika ia memang harus menunjukkan kesalahan itu karena alasan agama atau karena suatu kewajaran padanya, maka hal itu tidak haram dan tidak berdosa. Yang jelas, menuduhkan sesuatu yang tidak ada pada diri seseorang ( memfitnah ), maka hal itu sama sekali tidak dapat dibenarkan oleh agama. Rasulullah saw. bersabda, "Siapa yang membicarakan sesuatu mengenai seorang muslim yang tidak ada padanya ( tidak bersalah ), maka Allah akan mengurungnya di dalam satu bagian neraka yang berkumpul segala peluh, darah dan nanah para penghuni neraka jahanam." ( At-Targhib ).

Sekarang perhatikanlah lisan kita. Kebanyakan apa yang kita ingin bicarakan mengenai seseorang, kita akan langsung membicarakannya tanpa rasa cemas. Seharusnya kita berhati-hati dalam menjaga lidah kita. Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw., "Ajarkanlah kepadaku sesuatu yang dapat kupegang dengan kukuh." Rasulullah saw. mengisyaratkan kepada lidahnya lalu bersabda, "Jadilah kamu tuannya pada setiap waktu." Ada sahabat lainnya bertanya, "Dari apa aku harus berlindung dari diriku?" Beliau bersabda, "Dari lidah." ( At-Targhib ).

Rasulullah saw. bersabda, "Orang yang suka mengejek dan mencela orang lain, pada hari Hisab kelak, Allah akan bukakan sebuah pintu surga. Setiap mereka akan dipanggil agar datang segera. Ketika mereka sampai di pintu surga dengan susah payah, pintu itu akan ditutup. Pintu surga yang lain pun terbuka. Mereka dipanggil lagi demikian. Dan dengan susah payah lagi mereka sampai di sana. Pintu pun ditutup lagi. Pintu surga yang ketiga dibuka. Dan keadaan seperti itu pula yang terjadi. Begitulah seterusnya, sehingga mereka sangat kecewa dan tidak ada lagi kekuatan untuk pergi ke pintu surga tersebut." ( At-Targhib ).

Itulah balasan adzab atas mereka yang suka memperolok dan mempermainkan seorang muslim. Mereka akan merasakan adzab yang sama. Mereka yang menjadikan seorang muslim lainnya bahan ejekan karena perbedaan sepele, mereka yang memperolok muslim lain dengan gambar-gambar karikatur yang disiarkan secara umum, mereka yang menulis kata-kata pedas kepada muslim lain, hendaknya mereka berpikir serius mengenai akibat perbuatan mereka itu. Mereka perlu menyadari, bahwa sebagai seorang muslim yang beraqidah, masalah ini tidak akan berhenti saat itu saja. Setiap amal kita akan dimasukkan ke dalam buku catatan amal. Setiap saat, setiap orang selalu diperhatikan oleh polisi rahasia Allah, yaitu malaikat Raqib dan Atid.

"Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir ( Raqib dan Atid )." ( QS Qaaf: 18). 

Selanjutnya Alquran menyebutkan,

"Sesungguhnya malaikat-malaikat Kami selalu menuliskan tipudaya- mu."(Yunus:21).

Inilah waktu yang tepat untuk merenung dan meresapi apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw.,

"Apabila seseorang mencerca atau mencacimu atas keburukan yang ia tahu ada padamu, jangan kamu balas mencacinya dengan keburukan mereka. Niscaya pahala ( atas kesabaranmu ) akan diberikan bagimu dan baginya adalah kebinasaan."

Sungguh sayang, sebagian kita ada yang ketika akan mencerca, menghina, merendahkan atau membalas dendam terhadap seseorang, kita langsung tidak memikirkan apakah perbuatan dosa yang kita lontarkan ke atasnya itu benar-benar ada pada dirinya ataukah tidak? Bahkan tidak jarang kita sengaja merekayasa dan memutarbalikkan fakta atasnya.

Seperti inikah cara kita mengamalkan Islam? Jika seperti itu cara kita, maka sebenarnya kita tidak membalas dendam terhadap lawan kita, kita justru sedang mencoreng moreng kemuliaan Islam. Bagaimana orang lain dapat mengetahui apa yang kita lakukan itu sebenarnya bertentangan dengan Islam? Bagaimana orang asing dapat mengenal ajaran Islam yang sebenarnya? Bagaimana orang lain dapat mengetahui sejauhmana penyimpangan kita dari Islam?

Orang-orang non-muslim melihat kita seperti sebuah gambar yang memperlihatkan Islam. Namun, apakah mereka tahu bahwa kita sendiri telah menyisihkan dan mencampakkan ajaran Islam itu, sehingga kita sendiri tidak mendalami asasnya? Demikian buruk martabat kita, sehingga kita tidak sempat mempelajari agama kita, mazhab kita, sunnah-sunnah Nabi kita, dan contoh kehidupan para sahabat ra..


Read More or Baca Lebih Lengkap ..

Rabu, 28 Juli 2010

Menjaga lisan

Suatu ketika, Rasulullah saw. berwasiat kepada Mu'adz ra.. Beliau bersabda kepadanya, "Setelah kusampaikan semuanya, maukah kuberi tahu yang dengannya kamu akan mudah mengamalkan semua itu?" Sahut Muadz ra., "Tentu ya Rasulullah!" Rasulullah saw. mengisyaratkan ke arah lidahnya lalu bersabda, "Inilah ia, peliharalah ia." Mu'adz ra. bertanya, "Ya Rasulullah! Adakah kita akan dihisab disebabkan lidah kita?" Rasulullah saw. menjawab dengan balik bertanya, "Adakah sesuatu selain timbunan-timbunan ( yang disebabkan oleh lidah ), sehingga seseorang itu dicampakkan mukanya ke neraka?" ( Hadits Riwayat Hakim –Kitab Misykat ).

Maksud 'timbunan-timbunan yang disebabkan oleh lidah' adalah sebagaimana pisau sabit yang memotong rumput lalu menimbunnya di suatu tempat. Begitulah pisau lidah, yang memotong dengan ucapan lalu menimbunnya di suatu tempat, yaitu ke dalam buku catatan amalnya.

Ya! Keadaan kita sekarang ini adalah sebagaimana kita tidak mempedulikan tugas-tugas agama, seperti itulah kita tidak mempedulikan lidah kita. Lidah adalah kepentingan istimewa, sayang kita tidak dapat menjaganya. Kita mudah melemparkan berbagai tuduhan kepada lawan kita. Apa-apa yang terlintas di hati, tanpa ragu lagi akan kita tuduhkan kepada orang lain. Tanpa rasa sungkan, kita menuduh seseorang menerima suap atau mata-mata atau pengkhianat partai. Kita tidak menduga bahwa pada suatu hari kelak, kita akan dituntut untuk membuktikan tuduhan tersebut di hadapan Maha Hakim Yang Agung. Perhatikan apa yang difirmankan oleh Allah swt.,

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya, ( karena ) sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan ditanya. Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini
dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan tidak akan sampai setinggi gunung. Semua itu kejahatan ( yang ditimbulkan ) nya adalah sangat dibenci di sisi Tuhanmu. Itulah
sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain di sisi Allah, yang menyebabkanmu dilemparkan ke neraka dalam keadaan tercela lagi dijauhkan ( dari rahmat Allah )." ( Al-lsra: 36-39 ).
Dalam ayat ini, terdapat perintah agar berhati-hati dan berwaspada terhadap peranan mata, telinga dan hati dalam kehidupan ini. Kita telah menzhalimi diri sendiri, jika kita menuduh seseorang dengan sesuatu yang tidak ada buktinya. Menganggap wajar perbuatan menuduh, mencela, menyakiti, menyebut gila pangkat, gila harta terhadap lawan politik kita, yang berselisih pendapat dengan kita adalah sesuatu yang akan menjadi tuntutan yang berat.


Mungkinkah dengan tuduhannya itu akan menghasilkan maslahat bagi kaum muslimin menurut agama? Kita harus mengakui bahwa pendapat kita pun memiliki berbagai kemungkinan buruk, kemungkinan rugi dan kemungkinan bahaya yang juga besar. Kita pun harus mengakui bahwa kita tidak menerima wahyu yang menyatakan bahwa pendapat kita adalah jalan yang terbenar tanpa ada cacat celanya.

Jadi, pendapat-pendapat itu berkemungkinan berada di atas jalan yang salah. Walaupun kita bisa tentukan jalan yang kita pilih adalah benar, tetapi tidak wajar jika kita mengatakan kepada orang lain yang berbeda pendapat, bahwa mereka memilih jalan salah, bermaksud jahat, mementingkan diri sendiri dan tuduhan-tuduhan lainnya.

Memang, besar kemungkinan orang lain itu salah jalan. Walaupun demikian, jika kita tidak sependapat dengan seseorang karena suatu alasan yang sah, maka kita wajib menjelaskan kebenaran kepadanya dengan akhlak Islami bukan mencercanya dengan kata-kata pedas, sehingga menyakiti hati orang yang dituju, baik ia itu benar atau salah. Dan bukan dengan memfitnahnya, atau meng-ghibah di belakangnya.

"Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka buat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. " ( QS Al-Ahzab: 58 ).

Suatu ketika, Rasulullah saw. berkata, "Tahukah kalian siapakah orang yang muflis ( bangkrut ) itu?" Para sahabat menjawab, "Orang yang tidak memiliki harta." Beliau bersabda, "Orang yang bangkrut dari umat ini adalah orang yang datang pada hari Kiamat dengan membawa demikian banyak pahala shalat, zakat, puasa dan ibadah lain-lainnya. Namun ia telah mengumpat orang lain, memakan harta orang lain tanpa hak, telah membunuh atau memukul seseorang. Maka sebagian pahala amal baiknya akan diambil dan yang lain mengambil yang itu. Dan apabila tidak ada lagi amal baiknya, sedangkan masih ada orang lain yang menghendakinya, maka sesuai dengan tuntutan mereka itu, dosa-dosa mereka akan dilimpahkan ke atasnya."

Itulah hakekat orang bangkrut yang sebenarnya. Betapa malang ia, dengan pahala kebajikan yang demikian banyak, pada akhirnya semua itu akan habis begitu saja, tinggallah ia tanpa suatu apapun. Sedangkan dosa-dosa orang lain malah akan dilimpahkan ke atasnya.



Read More or Baca Lebih Lengkap ..

Partai Politik dan Tabiat Saling Menghina ( Bagian 2 )

Kita mengetahui bahwa banyak tuduhan yang dibuat dari hasil rekayasa seseorang atau suatu kelompok untuk menjatuhkan orang yang dituduh. Ini dilakukan karena dengki tidak ingin orang lain maju. Oleh sebab itulah Rasulullah saw. bersabda, "Hasad akan memakan amal baik sebagaimana api memakan kayu bakar."

Orang-orang yang sengaja membuat tuduhan palsu dan menghina orang lain serta berprasangka buruk terhadapnya, hendaknya merenungkan sabda Rasulullah saw. mengenai masalah ini. Mereka sepatutnya mengetahui bahwa mereka sedang mengundang bencana atas diri mereka sendiri. Apapun yang mereka lakukan terhadap orang lain, seperti itu pulalah yang akan menimpa mereka. Rasulullah saw. bersabda,
"Sebagaimana perbuatanmu terhadap orang lain, seperti itulah yang akan diperlakukan ke atasmu." ( Maqausidul Hasanah ).

Rasulullah saw. bersabda, "Kebaikan tidak akan menjadi tua, dosa tidak akan dilupakan, Dan Allah Maha Kaya tidak akan mati. Lakukanlah sesukamu, karena apa yang kamu lakukan terhadap orang lain, itulah yang akan diperlakukan terhadapmu."

Hadits lain menyebutkan, telah dipetik dari Taurat,
"Sebagaimana yang kamu tanam, seperti itulah yang akan kamu tuai. Dan cangkir apa yang kamu beri minum kepada orang lain, seperti itulah yang kamu akan diberi minum." ( Sumber: Kitab Maqausidul Hasanah ).

Hadits lain juga menyatakan yang dikutip dari kitab Injil,
"Sebagaimana yang kamu lakukan, seperti itulah yang akan dilakukan atasmu. Dan sebagaimana ukuran timbangan yang diberikan untuk orang lain, seperti itulah timbangan yang disediakan untukmu."
( Kitab Jami'us Shaghir ).

Nabi saw. bersabda, "Siapa yang enggan menolong saudaranya muslim ketika ia dihina dan disakiti, maka Allah akan membiarkannya tanpa ditolong ketika ia benar-benar menginginkan pertolongan. Dan siapa yang menolong saudaranya semuslim ketika ia dihina dan disakiti, maka Allah akan menolongnya ketika ia benar-benar memerlukan pertolongan." ( Kitab Misykat ).

Abu Dzar ra. -seorang sahabat yang terkemuka--, meriwayatkan sebuah hadits panjang yang ujungnya berbunyi demikian, "Aku meminta wasiat kepada Rasulullah saw.. Beliau bersabda, "Kuwasiatkan agar kamu selalu bertakwa setiap saat, karena takwa adalah hiasan bagi segalanya. Siapa yang takut kepada Allah dalam segala hal, ia pasti tidak akan terlibat dalam perbuatan-perbuatan dosa." Abu Dzar ra. memohon lagi, "Nasehatilah aku lagi." Beliau menjawab, "Perbanyaklah membaca Al Qur’an dan berdzikir, itu akan membuatmu diingat di langit dan menjadi nur di bumi." Abu Dzar ra. meminta lagi, "Nasehatilah aku lagi." Beliau bersabda, "Perbanyaklah diam, karena itu akan menjadi penghalang dari syetan ( manusia selalu terjebak masalah karena lidahnya )." Menjaga lidah akan membantu seseorang, sehingga terpelihara agamanya ( siapa yang terkena penyakit banyak bicara, niscaya mudah terlepas dari amal shaleh ) . Abu Dzar ra. meminta tambahan lagi. Rasulullah saw. bersabda, "Tahanlah dirimu dari banyak tertawa, karena ia akan mematikan hati dan menghilangkan nur wajahmu." Abu Dzar ra. meminta tambahan lagi. Beliau bersabda, "Berkatalah benar walaupun pahit." Ia minta tambahan lagi. Rasulullah saw. bersabda, "Perhatikanlah aibmu karena itu akan menghalangimu dari melihat aib orang lain." ( Kitab Misykat ).

Maksud saya menulis kalimat terakhir adalah untuk menunjukkan kebodohan kita. Dimana sering kita sibuk mengorek aib-aib saudara kita. Jika kita sibuk dengan melihat aib diri sendiri, tentu kita tidak sempat melihat aib orang lain, apalagi menyebarkan aib-aib mereka, sebab kita sibuk dengan aib-aib diri kita sendiri.

Dalam wasiat yang ditulis oleh Syekh Maulana Raipuri rah.a., kita mendapatkan rangkaian syair Persia yang berikut ini,
Ketika sedang berlayar di laut, syekhku menasehatiku dengan dua masalah:
Satu, Jangan penuhi dirimu dengan sikap egois.
Kedua, Jangan melihat aib orang lain.



Read More or Baca Lebih Lengkap ..

Partai Politik dan Tabiat Saling Menghina

Lihatlah partai-partai politik yang tumbuh begitu banyak sekarang ini! Lihatlah dengan seksama; mereka yang berpartai dan yang tidak berpartai. Kemudian lihatlah, bagaimana para tokoh partai itu menghamburkan kata-kata kasar terhadap tokoh-tokoh partai lain tanpa menghiraukan apakah yang ia hina adalah ulama atau bukan. Kita melihat bagaimana para tokoh itu saling menghina dan mencela dengan tujuan merusak harga diri mereka di depan umum, agar partai mereka jatuh, sedangkan harga dirinya bertambah terkenal.

Yang paling mengherankan adalah, setiap orang yang terperosok ke dalam perbuatan tercela ini, mengakui bahwa hal itu bukan suatu perbuatan yang terpuji, tetapi ketika mereka berpidato di hadapan umum, mereka gagal untuk menerapkannya dalam lisan mereka. Mereka justru bersemangat mengadu domba antara kata-kata keji dan pedas yang dilemparkan oleh pihak lain. Dan pada waktu yang sama, mereka gagal memperhatikan dan mengoreksi perilaku yang terjadi dalam kalangan partai mereka sendiri.
Sebuah syair Persia menyatakan,
"Mereka melakukan tanpa kejujuran lalu mengakui bahwa
ini dosa yang mereka lakukan di belakang rumah mereka sendiri."

Dan hadits Rasulullah saw. menyatakan,
"Sebagian kamu melihat sedikit debu di mata saudaranya, ( tetapi ) tidak dapat melihat alang ( kayu lintang ) yang berada di matanya sendiri."

Ini adalah masalah yang sangat serius dan berbahaya! Menghina dan merendahkan kehormatan seorang muslim tanpa hak adalah seburuk-buruk riba. ( Sumber: Kitab Jami'us Shaghir ). 'Tanpa hak' di sini maksudnya apa-apa yang dibenarkan oleh syariat bermakna boleh, sedangkan hal-hal yang syariat tidak membolehkannya bermakna tanpa hak.

Rasulullah saw. bersabda, "Riba yang terendah adalah sama dengan berzina dengan ibu sendiri dan riba yang terburuk ialah menjatuhkan harga diri seorang muslim." ( Jami'ush Shaghir ).

Sebuah hadits lain menyatakan bahwa terdapat tujuh puluh derajat dosa mengambil riba, dan yang terendah adalah sama dengan berzina dengan ibu sendiri dan ( dosa riba ) yang terbesar adalah menjatuhkan harga diri seorang muslim. Hadits lain menyatakan bahwa merendahkan dan berkata kasar terhadap seorang muslim adalah salah satu dosa besar dan mengeluarkan dua perkataan kasar setelah menyatakannya sekali termasuk dosa besar. ( Jami'ush Shaghir ).
Juga diriwayatkan sebuah hadits yang berbunyi, "Apabila umatku mulai mencela satu sama lainnya, maka mereka tidak dipandang lagi oleh Allah. ( Kitab Risalah Tabligh ).

Demikian risau Rasulullah saw. mengenai hal ini, sehingga beliau menyuruh agar kita menutup mata kita dari melihat kesalahan sepele pada para tokoh. Beliau bersabda,
"Tutup mataku dari melihat aib orang-orang yang berkedudukan, kecuali mengenai hudud."
Di sini kita diperintahkan agar menutupi mata terhadap aib-aib para tokoh. Namun demikian, masalah hudud, seperti mereka berzina, mencuri/ korupsi dan sebagainya, yang telah ditetapkan hukuman hudud menurut syariat, maka tiada seorang pun yang berhak mendapat pelayanan istimewa. Sebaliknya, tidaklah dibenarkan menuduh seseorang hanya dengan berdasarkan prasangka dan dugaan tanpa bukti yang kuat.


Dalam surat An-Nur, dinyatakan dengan jelas mengenai perzinahan. Jika penuduh gagal membawa empat orang saksi, maka menurut hukum Islam, tuduhan itu batal. Demikianlah aturan Al Qur’an. Namun berbeda dengan aturan kita. Jika kita ingin menyebarkan permusuhan pribadi terhadap seseorang, kita dapat melakukannya sekehendak kita, misalnya dengan menyebarkan karikatur-karikatur jelek mengenainya, atau menulis artikel mengenainya sekehendak kita. Di sisi kita, seolah-olah tidak ada masalah jika menuduh musuh kita, sebagai pezina atau peminum minuman keras.

Bandingkanlah dengan ketetapan syariat, dimana jika seseorang tidak dapat membawa empat saksi yang mengatakan bahwa seseorang itu telah berzina, maka si penuduh harus dicambuk delapan puluh kali. Sedangkan kita sekarang, bersikap tidak mempedulikan adanya saksi ketika menuduh seseorang. Rasulullah saw. bersabda, "Kadangkala syetan juga menyamar berupa manusia untuk menyebarkan berita palsu. Dan sekumpulan manusia mengetahuinya kemudian berpencar ke berbagai penjuru menyebarkan berita itu ( bisa pula melalui situs jejaring sosial ). Mereka saling memberitahukan satu sama lainnya, "... Aku mendengar kisah ini dari seseorang tertentu, aku tidak tahu namanya, tapi kukenal wajahnya. . . ." ( Hadits Riwayat Muslim – Kitab Misykat ).

Oleh sebab itu, hendaklah kita berhati-hati. Adalah suatu kesalahan dan ketidakadilan yang besar jika kita mempercayai suatu cerita yang hanya kita dengar dari seseorang yang tidak kita kenal. Adalah suatu kesalahan mempercayai sesuatu begitu saja, hingga cerita itu dibuktikan kebenarannya secara syariat. Mengambil langkah hati-hati dan waspada untuk menghindarkan diri dari tuduhan seperti ini adalah sesuatu yang berbeda, tetapi menetapkan tuduhan ke atasnya tanpa saksi dan bukti adalah salah besar.

Perkara ini harus dipahami dengan benar. Diam dan tidak menanggapi suatu tuduhan adalah wajar sebagai langkah hati-hati, tetapi jika kita akan melimpahkan tuduhan atasnya, maka patut dikemukakan bukti-bukti syariat atasnya.
Read More or Baca Lebih Lengkap ..

Menjatuhkan Martabat Seorang Muslim ( Bagian 2 )

Selanjutnya Rasulullah saw. bersabda, "Amal perbuatan ( manusia ) akan dibawa di hadapan Allah setiap hari Senin dan Kamis, lalu ampunan akan diberikan kepada semua orang, kecuali orang yang mensyirikkan Allah dan dua orang yang saling membenci dan bermusuhan di antara keduanya. Dikatakan kepada mereka, "Tahanlah ampunan atas mereka, sehingga mereka berbaikan kembali." ( Bukhari -At-Targhib ).

Ada juga hadits yang menyebutkan, "Barangsiapa memanggil seseorang dengan sebutan 'kafir' atau 'musuh Allah' Sedangkan orang yang dipanggil itu tidak demikian, maka kata-kata itu akan kembali ke penyebutnya." ( Hadits Riwayat Bukhari – Kitab At-Targhib).
Hadits lain menyebutkan, "Mengutuk seorang muslim adalah perbuatan fasik." Hadits lainnya lagi, "Mengutuk dan berkata kotor terhadap orang muslim sama dengan menyiapkan kebinasaan bagi diri sendiri." ( At-Targhib ).
Selanjutnya dikatakan dalam hadits, "Siapa yang menuduh seseorang dengan sesuatu yang tidak ada pada orang itu, maka Allah akan merantainya di neraka lalu dikatakan kepadanya, "Buktikan kebenaran tuduhanmu itu." ( At-Targhib ).

Hadits lain menyebutkan, "Hamba Allah yang terbaik ialah orang yang apabila kamu memandang wajahnya, kamu akan teringat Allah. Dan hamba Allah yang terburuk adalah orang yang menyebarkan keburukan, memecah-belah persatuan dan orang yang mencari aib orang lain yang tidak ada pada orang itu." (At-Targhib).

Pada masa haji Wada', Rasulullah saw. mengumumkan, "Darahmu, kemuliaanmu dan hartamu telah diharamkan pada hari ini selamanya, sebagaimana keharaman kota ini, bulan ini dan hari ini." Sebuah hadits menyatakan, "Nyawa, harta dan kehormatan orang muslim diharamkan bagi muslim lainnya."

Berbagai hadits lainnya dengan redaksi yang berbeda telah diriwayatkan mengenai masalah ini, sebagiannya telah disebutkan sebelumnya. Namun ternyata kita menyepelekannya. Di antara contoh perbuatan kita yang sekadar berdasarkan prasangka belaka adalah kecaman dan ucapan sinis kita terhadap orang lain yang dihamburkan tanpa segan. Di sisi Allah, menjatuhkan harga diri serta kehormatan seorang muslim adalah dosa yang menyamai riba yang terburuk.

Renungkanlah! Bukan hanya satu hadits yang menyatakan demikian, bahkan sangat banyak. Misalnya sebuah hadits yang berbunyi, "Riba yang terburuk adalah menghina seorang muslim dengan kata-kata kasar." ( Sumber: Kitab Jami'ush Shaghir ). Maksudnya, adalah menjatuhkan kehormatan seseorang agar dapat menaikkan harga dirinya.




Read More or Baca Lebih Lengkap ..

Menjatuhkan Martabat Seorang Muslim

Secara umum, keadaan kita adalah jika ada seseorang yang berbuat sesuai dengan pikiran kita, kita akan menganggapnya seorang yang ikhlas, bertakwa, takut kepada Allah dan orang yang shaleh. Sebaliknya, jika orang itu berbeda pandangan dengan kita, maka kita akan menuduhnya bodoh, pembelot, egois, pengkhianat, penjilat, dan sebagainya. Ringkasnya, semua aib akan ditujukan kepadanya. Sebenarnya, orang seperti ini sedang memperlihatkan aib-aib dirinya kepada semua orang. Dan semua aib yang tidak pernah dibayangkan olehnya akan terbongkar dari dirinya.

Demikianlah kebiasaan kita, sedangkan hal itu sangat bertentangan dengan sabda Rasulullah saw., "Barangsiapa menutup aib saudaranya yang muslim, Allah akan menyembunyikan aibnya pada hari Kiamat. Dan barangsiapa membuka aib orang lain, maka Allah akan membuka aibnya, walaupun dosa itu dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, pasti kehinaan akan mencegahnya."

Ibnu Umar ra. meriwayatkan, suatu ketika, Rasulullah saw. naik mimbar, dan bersabda dengan lantang, "Wahai manusia yang Islamnya hanya di lidah sedangkan iman belum menyentuh hatinya! Janganlah menyusahkan kaum muslimin dan jangan mencari-cari aib mereka. Barangsiapa mencari aib seorang muslim, Allah akan perlihatkan aibnya. Dan bila Allah ingin memperlihatkan aib seseorang, maka Dia akan menjadikannya hina walaupun di dalam rumahnya sendiri." ( Sumber: Kitab At-Targhib ).

Suatu ketika, Abdullah bin Umar ra. melihat ke Baitullah, lalu ia berkata, "Betapa berat dan agung! ( Jika kamu lakukan ), maka Allah akan menunjukkan rahim-Nya kepadanya, sedangkan musibah yang sama akan dikenakan juga ke atasmu." Rasulullah saw. bersabda, "Orang yang paling kukasihi ialah orang yang berakhlak ramah dan riang. Lembut tangannya ( tidak menyingsing lengan atas perkara sepele ), cepat berkawan dan menyambung hubungan baik dengan orang lain. Dan orang yang paling kubenci adalah orang yang suka omong-kosong, mengumpat, memecah-belah, meruncingkan perbedaan di antara kawan, dan mencari kebaikan yang tidak ada pada orang lain." ( At-Targhib ).

Dalam hadits yang lain, Rasulullah saw. bersabda, "Apabila seseorang menghina dan menuduhmu dengan suatu aib yang tidak ada padamu, maka jangan kamu menjawab dan menghinanya kembali ( pada hakekatnya, aib itu ada pada dirinya ), niscaya kamu akan diganjar dengan pahala dan ia akan dibebani dengan dosa penghinaannya." ( At-Targhib ).

Rasulullah saw. bersabda, "Jangan putuskan silaturrahmi di antaramu. Jangan saling melihat keburukan di antara kalian. Jangan saling membenci di antara kalian. Jangan saling hasad di antara kalian. ( Di antara tanda ) persaudaraan di antara sesama muslim adalah tidak memutuskan pembicaraan selama tiga hari antara satu sama lainnya." ( At-Targhib ).




Read More or Baca Lebih Lengkap ..

Pahala Setiap Amal Tergantung Niat ( Bagian 2 )

Ada sebuah hadits yang menyatakan bahwa, "Barangsiapa beramal dengan riya dan untuk kemasyhuran, maka di akherat Allah akan memasyhurkannya ( niat buruknya akan diumumkan kepada semua orang ), dan ia akan dihinakan." Rasulullah saw. pun bersabda, "Kebimbanganku yang terbesar atas umat ini adalah 'syirik Asyghar'." Para sahabat bertanya, "Apa itu syirik Asyghar?" Rasulullah saw. menjawab, "Beramal dengan riya ( ingin dilihat orang ). Pada hari Kiamat, Allah berfirman kepada orang itu, "Pergi! dan dapatkan pahala dari orang yang ingin kamu tujukkan amalanmu itu."

Berbagai hadits menjelaskan masalah ini, bahwa segala amal yang dilakukan untuk mendapat nama dan kemasyhuran atau bertujuan untuk memperoleh harta atau keuntungan duniawi tanpa diniati untuk ridha Allah, maka semuanya akan sia-sia tanpa mendatangkan manfaat apapun.
Sebelum ini, kita telah membahas tentang jihad dan menyebutkan hadits-hadits yang berkaitan dengan niat. Di sini kita akan membicarakan hadits yang berbunyi,

"Berjihad untuk mencari nama dan kemasyhuran tidak akan diterima oleh Allah."

Suatu ketika, seorang sahabat melintas di hadapan Rasululah saw. memperlihatkan kekuatan badannya serta bentuk badannya yang segar bugar. Para sahabat pun berkata, "Alangkah baiknya jika dalam keadaan seperti itu ia pergi berjihad ke jalan Allah?" Jawab Rasulullah saw., "Jika ia keluar bekerja untuk menafkahi anak-anaknya yang kecil, maka ia berjihad di jalan Allah. Jika ia keluar bekerja untuk membantu kedua orang tuanya, ia juga berjihad di jalan Allah. Dan jika ia keluar untuk menafkahi dirinya sendiri dan menyelamatkan dirinya dari memakan dan berbuat sesuatu yang haram, ia juga berjihad di jalan Allah. Tetapi jika ia keluar untuk mencari nama dan kemasyhuran agar dilihat oleh orang lain, maka ia di jalan syetan." ( Sumber: Kitab At-Targhib).

Hadits di atas dan hadits-hadits yang serupa dengannya, jelas menunjukkan bahwa berjihad di jalan Allah bukan saja terbatas pada jihad yang hakiki, atau pada amalan yang bukan wajib atau ibadah-ibadah yang tertentu. Tidak. Selain ibadah wajib dan amal-amal shaleh lainnya yang disertai dengan niat mendapat ridha Allah, semua termasuk di jalan Allah.

Siapa yang berpikir bahwa berkhidmat kepada agama hanyalah dengan sibuk beribadah, atau menganggap bahwa terjun dalam urusan yang mubah itu bertentangan dengan agama, maka sebenarnya ia telah melakukan kekeliruan besar. Tiada seorang pun dari kalangan ulama mu'tabar yang berkata kepada seseorang, jangan mencari nafkah atau tinggalkan sama sekali. Sebenarnya, masalah yang terpenting adalah jangan menjadikan mencari duniawi sebagai tujuan hidup. Hendaklah kita mencari nafkah semata-mata untuk mendapat ridha Allah. Jangan melakukannya untuk mendapatkan kemasyhuran, kedudukan, kebanggaan, keangkuhan atau untuk diperlihatkan kepada orang lain.

Dengan demikian, terdapat gambaran sebaliknya yang juga salah dan bertentangan dengan ajaran Islam, yaitu menuduh setiap orang melakukan sesuatu untuk 'maksud pribadi' dan 'menuruti tuntunan hawa nafsunya sendiri'.

"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka,sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan jangan kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing ( mengumpat ) sebagian yang lain..." ( Al-Hujurat: 12 ).





Read More or Baca Lebih Lengkap ..

Pahala Setiap Amal Tergantung Niat

Ada seseorang mengajukan pertanyaan berikut kepada Maulana Zakariyya:
Nampaknya, masalah pribadi berpengaruh besar dalam menentukan tindakan dan niat seseorang, dan terlihat seolah-olah setiap orang sedang menuruti nafsunya sendiri. Bagaimana pendapat Anda?

Jawaban Maulana:
Tidak sulit membayangkan bahwa sebagian orang memang seperti yang Anda sebutkan. Jika tidak semuanya, pasti sebagian mereka berbuat sesuatu karena tuntutan hawa nafsunya. Bila nafsu dituruti sudah tentu, akan berakibat pada kerusakan dan bencana di mana-mana. Hal ini dapat dipastikan bahwa itu sekadar alasan untuk menolak anjuran Islam. Jika kita menerima dan mentaati ajaran Islam, tentu tiada satu pun kerusakan yang dapat terjadi di dunia ini. Tidak ragu lagi, siapa yang melaksanakan amalan dan tugas agama untuk memuaskan nafsunya, maka ia sama dengan menzhalimi dirinya sendiri. Rasulullah saw. bersabda,

"Sesungguhnya ( ganjaran bagi ) setiap amal itu ( bergantung ) pada niat. Dan bagi setiap orang adalah apa yang diniatkannya."

Ketika Rasulullah saw. mengutus Mu'adz ra. ke Yaman, ia meminta Rasulullah saw. agar memberinya nasehat. Rasulullah saw. mewasiatkan agar senantiasa ikhlas dalam setiap amalan, lalu bersabda, "Perbuatan baik walaupun sedikit, jika dilakukan dengan ikhlas sudah mencukupi." Disebutkan dalam hadits lain, "Kegembiraan Allah dilimpahkan ke atas Mukhlisin ( orang-orang yang ikhlas ). Mereka seperti cahaya-cahaya hidayah. Dan melalui mereka setiap fitnah terburuk akan dihapuskan."

Sa'ad ra. -seorang sahabat terkemuka--, suatu ketika bimbang dengan amal perbuatannya. Rasulullah saw. pun memperingatkannya, "Pertolongan Allah atas umat ini melalui orang-orang yang lemah, melalui shalat mereka, doa-doa mereka dan keikhlasan mereka."

Rasulullah saw. juga bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak melihat jasad dan wajahmu, tetapi Allah hanya melihat hatimu ( yaitu niat apa yang mendasari perbuatanmu )." Allah swt. berfirman,

"Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya akan Kami sempurnakan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dan mereka di dunia ini tidak dirugikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak mendapatkan di akherat, kecuali neraka dan lenyaplah di akherat itu apa yang telah mereka usahakan ( di dunia ) dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan." ( Huud: 15-16 ).

Banyak hadits menjelaskan maksud ayat ini, di antaranya sabda beliau bahwa barangsiapa menjadikan maksud hidupnya hanya untuk dunia, Allah akan memberinya kesusahan atasnya dan ia akan selalu memikirkan hal-hal mengenainya. Dan barangsiapa menjadikan akherat sebagai maksud utamanya, maka Allah akan menolongnya, memenuhi hatinya dengan kecukupan, dan dunia akan menawarkan dirinya dengan keadaan hina. Menurut sebuah hadits lain, Allah berfirman, "Wahai Anak Adam! Luangkanlah waktumu untuk beribadah kepada-Ku, maka akan Kupenuhi hatimu dengan rasa cukup dan menghapuskan segala kebimbanganmu. Jika tidak, akan Kupenuhi hatimu dengan kesibukan yang berkepanjangan tanpa hilang dari pikiranmu."
Dengan demikian, mereka yang tujuan hidupnya hanya duniawi, maka segala ibadah dan usaha mereka adalah sia-sia.

Ka'ab ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Berilah kabar gembira kepada umat ini bahwa mereka akan sukses, kuat beragama, dan berkedudukan tinggi dan menguasai bumi. Namun, siapa yang beramal akherat demi mencapai keduniaan, maka tidak ada bagian baginya di akherat."

Diriwayatkan, ada seorang sahabat berkata, "Aku bangun untuk beramal shaleh dengan tujuan ridha Allah, juga agar namaku disebut ( maka di tingkat manakah aku? ). Mendengar hal ini Rasulullah saw. terdiam, sehingga turun ayat Alquran yang berikut,

"Maka barangsiapa mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, hendaklah ia beramal shaleh dan janganlah ia mempersekutukan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya." ( Al-Kahfi: 110 ).



Read More or Baca Lebih Lengkap ..

What Does This Blog Talk? Blog ini Bicara Tentang...

Lorem Ipsum

  © Blogger templates Romantico by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP